Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sinyal Hawkish Fed Tekan Rupiah, Tapi BI Tetap Optimistis
Ilustrasi Rupiah Melemah ke USD (Foto: ANTARA)
  • Pernyataan hawkish pejabat The Fed memicu spekulasi kenaikan suku bunga September, dengan probabilitas CME FedWatch naik menjadi sekitar 65 persen dari 40 persen sepekan sebelumnya.
  • Inflasi PCE AS mencapai 3,7 persen pada Juli 2026, melampaui target 2 persen; fed funds rate tetap 3,50–3,75 persen setelah rapat FOMC Juli.
  • Rupiah ditutup melemah 0,11 persen ke Rp17.763 per dolar AS. BI optimistis kurs bertahan Rp17.300–Rp17.800 hingga tahun depan, sementara RAPBN 2027 mematok Rp17.500.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE Nilai tukar rupiah kembali tertekan oleh penguatan spekulasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) usai Simposium Jackson Hole. Pada penutupan perdagangan Rabu (2/9), rupiah terkoreksi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.763 per dolar AS.

Tekanan pasar ini dipicu oleh retorika hawkish Gubernur Fed, Kevin Warsh, terkait laju inflasi AS. Pernyataan tersebut langsung direspons pasar dengan mengalkulasi ulang arah kebijakan moneter Fed.

"CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September, naik dari sekitar 40 persen seminggu yang lalu," kata pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, melalui keterangannya, Rabu (2/9).

Sinyal pengetatan juga diperkuat oleh Deputi Gubernur Fed, Michael Barr. Ia menilai inflasi yang bertahan di atas target dapat memicu risiko sistemik bagi perekonomian AS. Barr menegaskan penyesuaian suku bunga acuan perlu dilakukan jika inflasi AS gagal melandai.

Inflasi utama Personal Consumption Expenditures (PCE) AS per Juli 2026 berada pada level 3,7 persen secara tahunan. Angka ini masih melampaui target Bank Sentral AS sebesar 2 persen. Saat ini, Fed funds rate berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen usai dipertahankan pada rapat FOMC Juli 2026.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada Kamis (3/9) akan cenderung fluktuatif. Ia memperkirakan mata uang domestik berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.760/US$ hingga Rp17.800/US$.

Merespons dinamika eksternal tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menilai fundamental rupiah masih terjaga. BI optimistis nilai tukar akan bergerak stabil pada kisaran Rp17.300/US$ hingga Rp17.800/US$ hingga tahun depan, disokong target inflasi domestik pada level 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Untuk kebijakan moneter kami akan tetap fokus untuk pro-stability dan turut memastikan likuiditas perekonomian yang memadai," kata Destry dalam rapat dengan Komisi XI DPR.

Stabilitas nilai tukar juga menjadi jangkar perencanaan fiskal jangka menengah. Dalam asumsi makro RAPBN 2027, nilai tukar rupiah dipatok stabil pada level Rp17.500/US$ dibandingkan asumsi makro 2026 sebesar Rp16.500/US$.

Curated For You

Editorial Team

Related Article