Comscore Tracker
LUXURY

Belanja Gucci Bisa Bayar Pakai Uang Kripto

Pembayaran dengan uang kripto rentan pencucian uang.

Belanja Gucci Bisa Bayar Pakai Uang KriptoIlustrasi Fashionista dengan tas tangan dan gesper Gucci. Shutterstock/Creative Lab

by Desy Yuliastuti

AS, FORTUNE - Setelah memasuki metaverse awal tahun ini, Gucci kini menerima kripto di beberapa toko di Amerika Serikat (AS). Mengutip sebuah laporan di Vogue Business, Gucci telah meluncurkan mekanisme pembayaran dengan kripto di toko-toko utama di AS, termasuk Rodeo Drive di Los Angeles, Wooster Street di New York dan Las Vegas. Langkah ini seiring memperluas layanan ke toko-toko Amerika Utara yang dioperasikan langsung dalam waktu dekat. 

Melansir Coindesk, dikutip Selasa (7/6), jenama fesyen mewah asal Italia ini menerima berbagai aset digital. Termasuk bitcoin, bitcoin cash, ether, wrapped bitcoin, dogecoin, shiba inu, dan sejumlah stablecoin. Kemudian, Gucci juga akan mengubah kripto menjadi mata uang fiat, kata laporan tersebut.

Sebelum membayar dengan uang kripto, pembeli akan menerima tautan berisi kode QR melalui email. Selanjutnya, pembayaran dapat dilakukan dari dompet kripto masing-masing, langsung dari ponsel pintar.

Adopsi kripto di jagat fesyen

Langkah penerimaaan pembayaran menggunakan mata uang kripto ini merupakan upaya yang sama dengan apa yang dilakukan Gucci melalui proyek NFT-nya. Tujuannya semakin menarik minat para pelanggan baru dari kalangan anak muda, khususnya ceruk pasar pengguna besar mata uang kripto dan NFT (non-fungible token).

"Gucci selalu mencari untuk merangkul teknologi baru ketika mereka dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan kami. Sekarang kami dapat mengintegrasikan cryptocurrency dalam sistem pembayaran kami, ini adalah evolusi alami bagi pelanggan yang ingin opsi ini tersedia untuk mereka," kata Presiden dan CEO Gucci, Marco Bizzarri di Vogue Business.

Menurutnya setelah NFT, penggunaan mata uang kripto sebagai pembayaran kemungkinan akan semakin menjadi tren di dunia fesyen ke depannya.

Gucci tak sendiri. Jenama fesyen mewah lainnya, Off White, juga baru-baru ini mengumumkan bahwa toko retail utama mereka di Paris, London, dan Milan mulai menerima pembayaran dalam koin kripto.

Sama seperti di lima toko Gucci di Amerika Serikat, di toko Off White tersebut sama sekali tidak ada batasan transaksi minimum menggunakan mata uang kripto. Akan tetapi, jika pembeli membayar menggunakan nominal kripto yang lebih dari harga barang, Off White tidak akan memberikan uang kembalian dalam bentuk uang kripto atau uang tunai apapun. Kembalian akan diterima ke dalam kredit di akun pembeli.

Sebaliknya, di toko Gucci yang menyediakan pembayaran menggunakan uang kripto, pembeli bisa mendapatkan uang kembalian secara tunai apabila pembayaran uang kripto mereka melebihi harga barang yang dibeli.

Belum ada keterangan lebih lanjut, apakah sistem pembayaran menggunakan uang kripto tersebut akan diperluas Gucci ataupun Off White di berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia.

Potensi pencucian uang

Meskipun demikian, pembayaran dengan kripto masih diwarnai sentimen negatif. Salah satunya, tindakan pidana pencucian uang menggunakan kripto (cryptocurrency) mencapai US$8,6 miliar atau Rp123 triliun tahun lalu.

Aset digital ini diperoleh dari hasil meretas atau tindak pidana lainnya. "Angka itu naik 30% dibandingkan 2020," kata perusahaan analisis blockchain Chainalysis dikutip dari Reuters, Selasa (7/6).

Secara keseluruhan, tindakan pencucian uang menggunakan kripto lebih dari US$33 miliar atau Rp473 triliun sejak 2017. Menurut Chainalysis, pelaku menyasar bursa terpusat. Sekitar 17 persen dari US$8,6 miliar aset kripto yang masuk kategori tindak pidana pencucian uang (TPPU) tahun lalu, dijalankan di aplikasi keuangan terdesentralisasi. 

Angkanya naik dari hanya 2 persen pada 2020. Chainalysis menyebut, pencucian uang menggunakan kripto merupakan proses menyamarkan asal usul uang yang diperoleh secara ilegal. 

Selanjutnya, pelaku mentransfernya ke bisnis yang sah. Perusahaan mencatat, US$8,6 miliar nilai pencucian uang tahun lalu merupakan dana yang berasal dari kejahatan crypto-native. Dana ini berasal dari penjualan data, baik yang dicuri darknet maupun serangan ransomware.

Keuntungan itu kemudian diambil dalam bentuk kripto. "Jadi lebih sulit untuk mengukur berapa banyak mata uang fiat yang berasal dari kejahatan offline. Misalnya perdagangan narkoba tradisional diubah menjadi kripto untuk dicuci,” kata Chainalysis. 

Peningkatan tajam aktivitas pencucian uang menggunakan kripto pada 2021 itu seiring pertumbuhan signifikan dari aktivitas transaksi yang sah dan ilegal.

Sementara itu, berbagai upaya untuk menjual barang-barang bernilai tinggi untuk kripto telah gagal karena masalah pencucian uang dan implikasi pajak bagi penduduk AS. 

Upaya Tesla untuk menjual mobilnya dalam bitcoin gagal dan dengan cepat dibatalkan, karena pajak yang dikenakan penduduk AS akan dikenakan ketika mereka melikuidasi kripto mereka, bersama dengan biaya overhead pengungkapan anti pencucian uang yang diperlukan.

Kemudian, pembayaran dengan kripto pernah diterima oleh pengembang di Thailand untuk real estate. Namun, langkah itu dilarang pada Maret setelah otoritas setempat mengangkat kekhawatiran tentang potensi pencucian uang.

Related Articles