LUXURY

Model AI Kian Jadi Alternatif di Industri Fesyen

Strategi mendekatkan diri dengan konsumen.

Model AI Kian Jadi Alternatif di Industri FesyenAi generated fashion model/Dok. Pixabay/Anilsharma26
07 February 2024
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE -  Teknologi AI (Artificial Intelligence) banyak dimanfaatkan di industri fesyen, salah satunya menghadirkan Model AI untuk berpromosi. Strategi baru ini dinilai efektif untuk menggaet konsumen.

Dengan model AI ini, perusahaan bertujuan untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih inklusif, pribadi, dan berkelanjutan untuk merek, pengecer, dan pelanggan fesyen.  Misalnya, ketika berbelanja  online pelanggan dapat melihat pakaian yang dipilih pada model dengan bentuk tubuh dan jenis kulit yang hampir serupa, sehingga memudahkan visualisasi produk.

Mengutip Fortune.com pada Rabu  (7/2), pemanfaatan model AI juga diterapkan untuk memberi kesempatan menarik audiens yang lebih beragam. Hal ini diungkap Michael Musandu,  ketika ia tumbuh besar di Zimbabwe dan ingin membeli pakaian, model-model di situs belanja tidak pernah mencerminkan penampilannya, meskipun merek-merek tersebut menargetkan berbagai audiens.

Inilah yang mendorongnya untuk meluncurkan Lalaland pada 2019, sebuah platform yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan model fashion mirip manusia yang dapat disesuaikan dengan jenis rambut, bentuk tubuh, dan warna kulit.

Dengan layanan seperti Lalaland para merek dapat menampilkan berbagai model yang dihasilkan oleh AI, yang berpose dengan pakaian yang sama dalam waktu singkat. Layanan yang berbasis di Belanda ini juga memberi solusi agar para merek bisa berpromosi  tanpa perlu menyewa model atau mengatur sesi pemotretan.

"Kami memberdayakan merek dan konsumen untuk memperluas standar kecantikan dengan membuat web menjadi lebih beragam seperti pasar," kata Musandu kepada Fortune.

Bagi merek, manfaat yang ditawarkan oleh layanan tersebut sangat jelas. Dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan, mereka dapat mengurangi biaya dan mempercepat produksi gambar, sekaligus menjadikan proses lebih inklusif.

Model AI dan kekhawatiran industri

Model AI/Dok. Lalaland.AI

Memang benar, konglomerat fesyen besar seperti LVMH juga tergoda dengan gagasan untuk bekerja lebih banyak dengan AI generatif untuk “meningkatkan pengalaman pelanggan.”

Namun layanan ini juga menimbulkan kekhawatiran—bahkan ketakutan—di beberapa bagian industri.

Bagi para fotografer, model, dan pihak lain yang terlibat dalam pembuatan gambar saat ini, hal-hal tersebut terdengar seperti resep untuk menghilangkan manusia profesional dari gambar. Ada pula kekhawatiran yang lebih besar: Apakah AI, menurut mereka, tidak akan memajukan keberagaman, tapi mengubahnya menjadi sebuah lelucon?

Rebecca Valentine, yang menjalankan Gray Modeling Agency yang berbasis di London, percaya bahwa penggunaan AI untuk mengadvokasi keberagaman adalah kontraproduktif. 

“Inti dari representasi keberagaman adalah untuk merayakan keaslian, budaya, keunikan, dan gaya hidup,” kata Valentine, seraya menambahkan bahwa AI “tidak merayakan keberagaman namun memparodikannya.”

Beberapa tahun ke depan akan menunjukkan apakah AI dapat berperan penting dalam menjadikan industri fesyen inklusif—dan apakah merek tahu kapan dan di mana harus menentukan batas ketika bekerja dengan teknologi mutakhir ini.

Bekerja dengan manusia, tanpa manusia

Ilustrasi artificial intelligence.
Ilustrasi artificial intelligence. (Pixabay/KELLEPICS)

Related Topics