Astra International (ASII)
Bank Central Asia (BBCA)
Alamtri Resources Indonesia (ADRO)
Adaro Andalan Indonesia (AADI)
Telkom Indonesia (TLKM)
GoTo Gojek Tokopedia (GOTO)
United Tractors (UNTR)
Merdeka Battery Materials (MBMA)
Bank Mandiri (BMRI)
Barito Pacific (BRPT)
Barito Renewables Energy (BREN)
Chandra Asri Pacific (TPIA)
Dian Swastatika Sentosa (DSSA)
Bank BTPN Syariah (BTPS)
Bank Negara Indonesia (BBNI)
Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
Kalbe Farma (KLBF)
Erajaya Swasembada (ERAA)
Sarana Menara Nusantara (TOWR)
TBS Energi Utama (TOBA)
Astra Agro Lestari (AALI)
Bangun Kosambi Sukses (CBDK)
Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE)
Prodia Widyahusada (PRDA)
Paramita Bangun Sarana (PBSA)
Elnusa (ELSA)
Estika Tata Tiara (BEEF)
IMC Pelita Logistik (PSSI)
Quantum Clovera Investama (KREN)
Mulia Boga Raya (KEJU)
Asuransi Maximus Graha Persada (ASMI)
UBC Medical Indonesia (LABS)
Alkindo Naratama (ALDO)
Ashmore Asset Management Indonesia (AMOR)
Bank CIMB Niaga (BNGA)
Sejumlah emiten mengungkapkan tujuan buyback. Misalnya, DSSA menargetkan peningkatan nilai bagi pemegang saham dan kepercayaan publik. PBSA berupaya menjaga stabilitas harga saham.
Meski telah mengalokasikan dana, realisasi buyback bergantung pada keputusan emiten dan kondisi pasar selama periode pelaksanaan. Dengan demikian, jumlah saham yang dibeli kembali belum tentu mencapai batas maksimal anggaran yang disiapkan.
Apa itu buyback saham? | Buyback adalah aksi perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri. |
Emiten mana yang memiliki plafon buyback terbesar dalam daftar? | Astra International (ASII) memiliki plafon maksimal Rp8 triliun. |
Berapa dana buyback yang disiapkan BRPT, BREN, dan TPIA? | Masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun. |
Apakah plafon buyback sama dengan realisasi pembelian? | Tidak, plafon merupakan batas dana yang disiapkan dan bukan nilai pembelian yang sudah terealisasi. |