Deloitte: Pasar IPO Indonesia Tertekan, Singapura-Malaysia Mendominasi

- Asia Tenggara mencatat 47 IPO pada semester I 2026, turun 11% secara tahunan, tetapi dana terhimpun naik 117% menjadi US$3,07 miliar dan kapitalisasi pasar naik 96%.
- Malaysia memimpin dengan 36 IPO dan US$1,34 miliar atau 43% dana kawasan, disusul Singapura US$868 juta yang menyalip posisi Indonesia berkat IPO UI Boustead REIT.
- Pasar IPO Indonesia lesu akibat kehati-hatian investor, volatilitas dan sensitivitas valuasi, diperburuk arus modal asing keluar serta pengawasan lebih ketat terhadap transparansi, free float, dan kepemilikan saham.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah aktivitas IPO (Initiall Public Offering) saham di Indonesia yang tertekan pada semester-I 2026, pasar IPO dan Malaysia justru mengalami hal sebaliknya.
Laporan Deloitte bertajuk 'Southeast Asia Mid-Year IPO Snapshot 2026', pasar modal IPO di Asia Tenggara mencatatkan 47 IPO. Total dana yang dihimpun melampaui US$3,07 miliar, dengan kapitalisasi pasar US$15,07 miliar.
Volume IPO menurun 11 persen (YoY) dari 53 perusahaan. Namun, total dana dan kapitalisasi pasarnya lebih tinggi dari paruh-I 2025, masing-masing berjumlah US$1,41 miliar (naik 117 persen) dan US$7,7 miliar (naik 96 persen). "[Ini] mencerminkan adanya pergeseran struktural yang lebih luas di pasar," kata Capital Markets Services Leader, Deloitte Southeast Asia, TAY Hwee Ling dalam keterangannya, Selasa (4/8).
10 IPO terbesar menyumbang dana sebesar US$2,68 miliar, yang mewakili 88 persen dari total himpunan dana IPO saham Asia Tenggara.
Sektor konsumen, dengan persentasi 33 persen terhadap jumlah dana IPO terhimpun. Lalu diikuti oleh sektor real estate serta ilmu hayati dan perawatan kesehatan.
Malaysia menduduki posisi puncak klasemen dengan menyumbang 43 persen (US$1,34 miliar) dari total dana IPO yang dihimpun di seluruh Asia Tenggara. Sebagai konteks, Malaysia mencatatkan 36 IPO pada paruh-I 2026. Hal itu membuat Malaysia menempati empat posisi dalam daftar 10 IPO terbesar di kawasan ini.
Singapura menyusul di posisi kedua dengan porsi 28 persen (US$868 juta) dari total dana IPO berdasarkan negara, serta menyumbang dua dari 10 IPO terbesar di Asia Tenggara pada 2026. Kedua IPO tersebut berasal dari perusahaan real estat dan perusahaan ruang kerja bersama yang masing-masing meraup dana US$754 juta dan US$78 juta.
Lebih lanjut, Singapura menyalip posisi Indonesia dalam peringkat IPO di Asia Tenggara, didorong oleh pencatatan saham dari UI Boustead REIT, yang meraih dana sebesar US$754 juta dengan kapitalisasi pasar mencapai US$931 juta.
Di lain sisi, pasar IPO Indonesia masih lesu pada enam bulan pertama 2026. Deloitte menyebut, hal itu mencerminkan kehati-hatian investor, volatilitas pasar, serta sensitivitas emiten terhadap valuasi. Tren serupa juga tercermin di pasar modal Thailand dan Filipina.
Tim Deloitte turut menyoroti faktor lain penyebab lesunya pasar IPO Indonesia di semester-I 2026, yakni: tertekannya arus modal asing keluar (foreign outflows) serta pengawasan yang lebih ketat terhadap transparansi pasar, porsi saham beredar publik (free-float), dan keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham.









