Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada Rabu (8/7), setelah ditutup naik 1,19 persen ke level 5.986,5.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan dengan support 5.734 dan resisten psikologis di 6.000. Keberhasilan menembus level 6.000 akan menjadi konfirmasi awal berlanjutnya momentum rebound.
"Pasar hari ini akan mencermati rilis Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia dan FOMC Minutes, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed sekaligus memengaruhi pergerakan rupiah dan arus dana asing," jelas Reza dalam riset hariannya.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah BBCA, ELSA, dan KOTA.
Kemarin, IHSG menguat berkat cadangan devisa Indonesia yang naik menjadi US$145,6 miliar. Ada pula sentimen positif dari rencana insentif PPN DTP untuk sektor properti, serta ekspektasi kebijakan pemerintah yang lebih propertumbuhan.
Akan tetapi, nilai transaksi yang masih rendah di kisaran Rp10,37 triliun menunjukkan investor masih cenderung selektif.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas mengatakan, faktor positif juga berasal dari usulan DPR yang mengurangi anggaran Program MBG pada 2027.
IHSG ditutup di atas level MA20 dan MACD masih menunjukkan minat beli. Namun beberapa sentimen negatif diperkirakan berpotensi memicu terjadinya profit taking. "Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak mixed pada kisaran 5.900-6.000," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$145,6 miliar pada Juni 2026 dari US$144,9 miliar pada Mei 2026 (7/7). Peningkatan moderat itu terutama didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, yang lebih dari cukup untuk mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah-langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia. Posisi cadangan devisa itu setara dengan 5.5 bulan impor atau 5.4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Sementara itu defisit APBN pada semester-I 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB. Namun Menteri Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 dapat mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan target yang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Meski penerimaan pajak diproyeksikan tumbuh 20,5 persen, pemerintah akan berupaya mempertahankan pertumbuhannya di kisaran 23 persen tanpa menaikkan tarif maupun menambah jenis pajak baru. Belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN.
"Proyeksi defisit APBN yang lebih lebar dari target tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif," kata tim riset Phintraco.
Saham-saham pilihan mereka hari ini adalah HMSP, CPIN, PGEO, SMGR, dan BBNI.
