Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Menuju 6.550? Cermati Inflasi dan Neraca Dagang Hari Ini
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • IHSG diproyeksikan menguji 6.550 setelah ditutup di 6.525,48, didukung struktur teknikal bullish, kenaikan volume transaksi, serta peluang normalisasi pascarebalancing MSCI.
  • Pasar menanti inflasi Agustus, inflasi inti, PMI manufaktur, dan neraca dagang Juli untuk mengukur kondisi ekonomi domestik serta ruang kebijakan Bank Indonesia.
  • Risiko tetap datang dari tren historis September, pelemahan Wall Street, sikap hawkish The Fed, kenaikan yield AS, konflik AS-Iran, lonjakan minyak, dan pelemahan rupiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi lanjut menguat pada perdagangan Selasa (1/9), setelah ditutup naik 0,11 persen ke level 6.525,48.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memproyeksikan IHSG menguji resisten di 6.550. Secara teknikal, IHSG masih mempertahankan struktur bullish dan bergerak di atas MA20 di 6.397.

"Jika mampu breakout dan bertahan di atas 6.550, peluang penguatan lanjutan semakin terbuka," kata Reza dalam riset hariannya.

Dari sisi sentimen, pasar akan mencermati inflasi Agustus dengan konsensus 3,13 persen (YoY), core inflation 2,80 persen, PMI manufaktur 50,5, serta neraca perdagangan Juli yang diperkirakan defisit US$600 juta. Data tersebut akan menjadi perhatian untuk melihat kondisi ekonomi domestik dan ruang kebijakan BI ke depan.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini mencakup WIFI, ESSA, dan DSNG.

Pada perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,70 persen ke level 53.185,90. Sementara itu, S&P 500 melemah -0,33 persen ke 7.686,14 dan Nasdaq Composite melemah -0,12 persen menjadi 26.370,8989.

Namun, IHSG menguat dengan nilai transaksi melonjak sekitar 60 persen menjadi Rp25,02 triliun seiring berakhirnya periode rebalancing MSCI. Perubahan konstituen MSCI berlaku setelah penutupan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September, dengan sebagian dampaknya telah diantisipasi pasar sejak pengumuman 13 Agustus.

Sementata itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG membentuk struktur bullish mengingat MA20&60 berada dalam kategori bullish crossover. Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan volume mulai mengalami penguatan.

Secara historis, September memang merupakan salah satu bulan yang cukup menantang bagi IHSG. Dalam 10 tahun terakhir, periode 2016–2025, IHSG tercatat melemah sebanyak 7x dan hanya menguat 3x pada bulan September, sehingga probabilitas penurunan secara historis mencapai sekitar 70 persen, dengan rata-rata return sekitar -0,88 persen.

Namun, pola musiman tersebut tidak bersifat deterministik. Bahkan pada September 2025, IHSG justru mampu menguat 2,94 persen dan mencatat anomali positif. Karena itu, September Effect sebaiknya dipandang sebagai faktor risiko, bukan sebagai kepastian bahwa IHSG akan terkoreksi.

Dari sisi positifnya, pasar memasuki September dengan peluang normalisasi setelah adanya tekanan mekanis dari rebalancing MSCI yang efektif pada 1 September, sehingga sebenarnya sudah priced-in karena hasil review telah diumumkan sejak pertengahan Agustus lalu. Selain itu, kepastian proses suksesi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, stabilnya BI Rate di 5,75 persen, serta fundamental ekonomi Indonesia yang relatif resilien dapat menjadi penopang sentimen.

Namun, Nafan menilai, risiko eksternal masih menjadi pemberat utama. Pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh mendorong ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate 25 bps pada September meningkat menjadi sekitar 64,2 persen berdasarkan CME FedWatch Tool, diikuti kenaikan yield US Treasury 10 tahun sebesar 0,68 persen ke 4,754 persen, sementara inflasi PCE AS masih berada di 3,7 persen (YoY).

Hal itu berpotensi membatasi arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia. Ditambah lagi eskalasi militer yang ditandai dengan serangan udara balasan antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. l

"Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sekitar 5% di kisaran USD90,43 per barel sehingga dapat meningkatkan risk-off sentiment. Rupiah sendiri pada Senin melemah 0,16 persen ke level Rp17.722 per dolar AS, sehingga pergerakannya tetap perlu diperhatikan," kata Nafan.

Para pelaku pasar akan menantikan rilis data makroekonomi domestik dari Badan Pusat Statistik hingga S&P Global terkait inflasi periode Agustus, neraca perdagangan periode Juli serta S&P Global Indonesia Manufacturing PMI periode Agustus, yang akan menjadi indikator utama dalam mengukur tingkat stabilitas perekonomian, ketahanan eksternal, serta aktivitas manufaktur nasional.

Editorial Team

Related Article