Konflik Timur Tengah Dorong Lonjakan Transaksi Minyak Mentah di ICDX

- ICDX mencatat lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah COFU10 hingga 648 lot pada Maret 2026, naik signifikan dibanding bulan-bulan sebelumnya.
- Krisis di Timur Tengah memicu peningkatan aktivitas lindung nilai di pasar energi global karena fluktuasi harga minyak yang tinggi.
- Analis ICDX menilai harga minyak berpotensi menguat ke kisaran US$95–US$100 per barel akibat risiko geopolitik dan gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah gonjang-ganjing krisis minyak akibat konflik di Timur Tengah yang belum usai, Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX) mencatat lonjakan transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah.
Sepanjang Maret 2026, volume transaksi kontrak berjangka minyak mentah COFU10 mencapai 648 lot, melonjak tajam dibandingkan Februari 2026 yang hanya 12 lot dan Januari 2026 sebanyak 4 lot.
Direktur ICDX Nursalam menjelaskan, COFU10 merupakan kontrak berjangka yang merepresentasikan 10 barel minyak mentah per lot. Komoditas yang digunakan mengacu pada jenis West Texas Intermediate (WTI), yakni minyak mentah ringan dan berkadar sulfur rendah yang menjadi salah satu acuan utama harga minyak global.
"Krisis di Timur Tengah memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot)," katanya dalam keterangan yang diterima Fortune Indonesia, Kamis (23/4).
Sementara itu, Analis Komoditas Research & Development ICDX Girta Yoga menilai harga minyak mentah berpotensi menguat dalam jangka pendek. Sebab efek dari risiko geopolitik timur tengah yang saat ini menjadi katalis penggerak utama belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
"Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global," ujarnya.
Selain itu, indikator lain yang menjadi faktor adalah kelanjutan negosiasi gencatan senjata AS – Iran untuk mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri perang Iran, perkembangan konflik Israel - Lebanon, kebijakan terkait output OPEC+, dan pertumbuhan permintaan di negara importir utama seperti Cina dan India.
Menurut Yoga, level resistance terdekat dalam jangka pendek minyak mentah berpotensi di kisaran harga US$95-US$100 per barel. Namun apabila ada katalis negatif, harga berpotensi turun menemui level support di kisaran harga US$80-US$75 USD per barel.


















