Survei Deutsche: Bitcoin Diprediksi Lesu hingga Akhir 2026

Jakarta, FORTUNE - Optimisme terhadap aset kripto tampak mulai memudar, setidaknya dari perspektif konsumen global. Hasil survei terbaru menunjukkan ekspektasi terhadap pergerakan harga bitcoin pada 2026 cenderung melemah, terutama di pasar Amerika Serikat.
Berdasarkan survei Deutsche Bank, sentimen publik terhadap bitcoin (BTC) masih diliputi pesimisme. Sejumlah responden menilai aset kripto ini belum akan kembali mencatatkan penguatan signifikan dalam waktu dekat.
Mengutip Yahoo Finance, survei terhadap 3.400 konsumen global tersebut memberikan gambaran mengapa pergerakan kripto relatif stagnan. Mayoritas responden tidak melihat 2026 sebagai tahun kebangkitan harga bitcoin.
Di Amerika Serikat, sekitar 19 persen responden memperkirakan harga bitcoin akan berada di kisaran US$20.000 hingga US$60.000 pada akhir 2026. Sementara itu, 13 persen lainnya bahkan memperkirakan harga akan turun di bawah US$20.000. Saat ini, bitcoin diperdagangkan di level US$75.798,56.
Tim Deutsche Bank mencatat, sebagian besar responden memperkirakan harga bitcoin akan berada di bawah posisi saat ini. Hanya sebagian kecil yang meyakini aset digital tersebut mampu kembali menembus rekor sebelumnya di kisaran US$120.000.
Kondisi ini kontras dengan pasar saham global. Indeks S&P 500 justru mencetak rekor baru dengan menembus level 7.000 pada April 2026. Namun, momentum tersebut tidak diikuti oleh bitcoin yang sebelumnya sempat mencapai level tertinggi di atas US$122.000 pada Oktober 2025.
Dalam sebulan terakhir, pergerakan bitcoin relatif terbatas. Meski sempat naik sekitar 7,7 persen dalam 30 hari, penguatan tersebut dinilai belum solid. Sepanjang akhir Maret hingga awal April, harga bitcoin bahkan lebih banyak bergerak di bawah US$70.000, dengan kenaikan sekitar 18 persen dari titik terendah Februari.
Perbedaan arah antara pasar saham dan kripto dinilai dipengaruhi oleh preferensi risiko investor. Saat pasar saham ditopang kinerja perusahaan yang kuat dan sentimen positif di Wall Street, bitcoin justru dipersepsikan sebagai aset berisiko tinggi.
Seiring meredanya ketegangan geopolitik, investor kembali mengalihkan dana ke saham teknologi, termasuk perusahaan seperti Nvidia, yang dianggap lebih stabil dalam jangka pendek.
Selain itu, kekhawatiran baru juga muncul dari perkembangan teknologi. Riset terbaru dari Google melalui divisi Quantum AI menyoroti potensi ancaman komputer kuantum terhadap sistem keamanan bitcoin. Dalam studi tersebut, disebutkan bahwa komputer kuantum hipotetis dengan 500.000 qubit berpotensi membobol kriptografi bitcoin dalam waktu kurang dari sembilan menit.
Meski teknologi tersebut belum tersedia saat ini, temuan ini telah memicu diskusi di kalangan pelaku industri mengenai ketahanan bitcoin terhadap ancaman di masa depan. Dengan berbagai tekanan tersebut, prospek bitcoin pada 2026 diperkirakan masih menghadapi tantangan, baik dari sisi sentimen pasar maupun perkembangan teknologi.

















