Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengguna Kripto Tembus 22,93 Juta, OJK Perkuat Perlindungan Konsumen
ilustrasi kripto (unsplash.com/Traxer)
  • OJK mencatat 22,93 juta akun konsumen aset keuangan digital di Indonesia dengan nilai transaksi aset kripto Rp20,52 triliun.
  • Buku Saku 2.0 diluncurkan bersama pelaku industri untuk memandu karakteristik, manfaat, dan risiko aset keuangan digital serta aset kripto.
  • Pengembangan IAKD didukung infrastruktur perdagangan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026, dan rencana Peta Jalan IAKD 2026–2031.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?
Vote Now
per Juli 2026

Ekosistem perdagangan aset keuangan digital ditopang dua bursa, dua lembaga kliring, penjaminan dan penyelesaian, dua pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang berizin.

pada bulan Juli 2026

Terdapat delapan penyelenggara pemeringkat kredit alternatif dan 16 penyelenggara agregasi jasa keuangan. Seluruhnya telah menjalin 1.357 kemitraan dengan Lembaga Jasa Keuangan.

Kamis (27/8)

Adi Budiarso menyatakan Buku Saku 2.0 bertujuan meningkatkan awareness serta kecerdasan finansial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?
Vote Now
  • What?
    OJK mencatat 22,93 juta akun konsumen aset keuangan digital dan transaksi aset kripto Rp20,52 triliun, serta meluncurkan Buku Saku 2.0 Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto.
  • Who?
    OJK, Adi Budiarso, pelaku industri, dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria terlibat dalam pengembangan ekosistem keuangan digital.
  • Where?
    Indonesia.
  • When?
    Adi Budiarso menyampaikan pernyataan pada Kamis (27/8). Data infrastruktur perdagangan dicatat per Juli 2026.
  • Why?
    Buku saku bertujuan meningkatkan awareness serta kecerdasan finansial mengenai karakteristik, manfaat, dan risiko aset keuangan digital dan aset kripto.
  • How?
    OJK menyusun Buku Saku 2.0 bersama pelaku industri, menyiapkan regulasi, dan mendorong teknologi seperti kecerdasan artifisial, tokenisasi aset, blockchain, serta aset kripto.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?
Vote Now

OJK bilang ada banyak orang di Indonesia memakai uang digital dan kripto. Ada 22,93 juta akun. OJK membuat Buku Saku 2.0 bersama pelaku industri. Buku itu mengajari manfaat dan risiko. Adi Budiarso ingin orang lebih pintar soal uang. Nezar Patria juga mengajak OJK dan ekosistem bekerja bersama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?
Vote Now

Penyusunan Buku Saku 2.0 bersama pelaku industri menyediakan panduan mengenai karakteristik, manfaat, dan risiko aset keuangan digital serta aset kripto. Langkah ini sejalan dengan dorongan OJK untuk meningkatkan awareness dan kecerdasan finansial, sembari menjaga inovasi dalam koridor kehati-hatian, perlindungan konsumen, dan stabilitas sistem keuangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta akun. Pada saat yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun, mencerminkan besarnya aktivitas masyarakat di ekosistem keuangan digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Adi Budiarso mengatakan pertumbuhan tersebut perlu diikuti dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap karakteristik dan risiko produk aset keuangan digital.

Sejalan dengan itu, OJK meluncurkan Buku Saku 2.0 Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto, yang disusun bersama pelaku industri. Buku tersebut memuat informasi mengenai karakteristik, manfaat, serta risiko aset keuangan digital dan aset kripto.

Menurutnya, kolaborasi antara regulator dan pelaku industri diperlukan untuk mempercepat pengembangan ekosistem keuangan digital agar pertumbuhannya dapat memberikan manfaat terhadap perekonomian nasional.

"Khususnya untuk meningkatkan awareness serta kecerdasan finansial. Jangan lupa, kecerdasan finansial adalah tonggak utama untuk mencapai financial well-being," ujar Adi di Jakarta, Kamis (27/8).

OJK menilai peningkatan literasi menjadi bagian penting seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna dan aktivitas transaksi aset keuangan digital. Pemahaman terhadap manfaat sekaligus risiko produk diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Dari sisi infrastruktur, OJK mencatat ekosistem perdagangan aset keuangan digital kini ditopang dua bursa, dua lembaga kliring, penjaminan dan penyelesaian, dua pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang aset keuangan digital berizin, per Juli 2026. Adapun dua bursa tersebut adalah CFX dengan 1.214 aset dan 49 derivatif yang dapat diperdagangkan. Lalu ICEX tercatat mendagangkan 871 asset.

Pada sisi inovasi teknologi sektor keuangan, OJK juga mencatat pada Juli 2026, terdapat delapan penyelenggara pemeringkat kredit alternatif dan 16 penyelenggara agregasi jasa keuangan. Seluruh penyelenggara tersebut telah menjalin 1.357 kemitraan dengan Lembaga Jasa Keuangan.

Perkembangan sektor IAKD juga didukung Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 yang menyempurnakan ketentuan mengenai pengembangan dan penguatan sektor keuangan. Arah pengembangan tersebut selanjutnya akan dituangkan dalam Peta Jalan IAKD 2026–2031.

Selain menyiapkan payung hukum, OJK juga mendorong perkembangan teknologinya, termasuk kecerdasan artifisial, tokenisasi aset, blockchain, dan aset kripto.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan pemerintah memperkuat sinergi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pengembangan ekosistem keuangan digital dan kecerdasan artifisial (AI).

Menurut Nezar, Komdigi berperan dalam memastikan kesiapan infrastruktur digital, kebijakan AI, serta pengembangan talenta digital. Sementara itu, OJK bertugas memastikan inovasi di sektor keuangan berkembang dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, dan stabilitas sistem keuangan.

"Dua peran ini saling melengkapi dan bukan saling menggantikan. Ke depan, kami mengajak OJK dan seluruh ekosistem yang hadir hari ini untuk memperkuat sinergi ini," ujar Nezar.

Sinergi kedua lembaga tersebut jua diharapkan dapat membangun ekosistem digital yang mampu mendorong inovasi sekaligus menjaga aspek keamanan dan perlindungan konsumen.

Ke depan, pengembangan industri keuangan digital diarahkan pada empa agenda yang telah dicanangkan pemerintah, mencakup pendalaman ekosistem yang telah terbentuk (deepening), memperluas jangkauan dan pemanfaatan inovasi (widening), serta memperkuat pelindungan konsumen dan mitigasi risiko (safeguarding) sehingga mencapai ekosistem inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Sampaikan pilihanmu tentang Buku Saku 2.0

Apakah Buku Saku 2.0 membantu memahami aset digital?

See More
Ya, membantu memahami manfaat dan risiko
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak, perlu sumber lain

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article