Jakarta, FORTUNE - J.P. Morgan Indonesia memproyeksikan kapasitas pusat data di Indonesia berpotensi naik 3 kali lipat menjadi 1,8 gigawatt (GW) pada akhir 2027.
Berdasarkan riset perusahaan, kapasitas terpasang pusat data di Indonesia mencapai sekitar 500 megawatt (MW) pada akhir 2025. Itu berarti, ada peluang peningkatan sekitar 1,3 GW dalam 2 tahun ke depan.
"Real estate, pusat data, pertambangan, atau hilirisasi, itu yang akan mendorong untuk mencapai [pertumbuhan] PDB Indonesia 6 persen [pada 2027]," kata Chief Executive Officer J.P. Morgan Indonesia, Gioshia Ralie di Jakarta, dikutip Jumat (4/9).
Tim analis sektor teknologi, media, dan telekomunikasi J.P. Morgan Indonesia memperkirakan, belanja modal yang dikeluarkan perusahaan pusat data mencapai US$8 juta per MW. Dengan peluang penambahan kapasitas hingga akhir 2027, ada prospek investasi senilai US$10 miliar yang datang ke Indonesia dari sektor tersebut dalam 2 tahun ke depan.
"Itu angka yang cukup besar dari satu sektor saja. Makanya menurut saya kita harus optimistis bahwa sebenarnya Indonesia sebagai destinasi investasi masih sangat diminati," kata Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan, Benny Kurniawan. "Kita mungkin sedikit terlambat tapi kita definitely still in the game untuk sektor teknologi."
Sebagai konteks tambahan, potensi sektor pusat data itu didorong oleh mulai merambahnya siklus investasi AI global ke Indonesia. Akibatnya, terjadi lonjakan tajam dalam pembangunan pusat data. Perusahaan-perusahaan pusat data telah mengumumkan rencana yang secara keseluruhan mencakup kapasitas jangka panjang sekitar 6 GW.
Beberapa emiten yang berbisnis atau memiliki eksposur di sektor pusat data adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Indosat Tbk (ISAT).
Saham DCII, DSSA, dan ISAT telah menguat masing-masing 5,53 persen; 76,87 persen; dan 15,05 persen selama 3 bulan terakhir. Sementara saham TLKM terkoreksi 10 persen pada periode yang sama.
