MARKET

Kemitraan dengan Hyundai Berakhir, Adaro Minerals Buka Suara

Kemitraan Hyundai-Adaro Minerals dikritik fan BTS, ARMY.

Kemitraan dengan Hyundai Berakhir, Adaro Minerals Buka SuaraIlustrasi smelter nikel. (Pixabay/Ferdinand Kozeluh)
05 April 2024

Fortune Recap

  • PT Adaro Minerals Tbk (ADMR) mengakhiri perjanjian pasokan aluminium dengan Hyundai Motor Company (HMC) setelah protes aktivis iklim yang disokong fan K-Pop.
  • Nota Kesepahaman (MoU) tidak mengikat antara ADMR dan HMC berakhir pada November 2023, tanpa perpanjangan.
  • ADMR menargetkan operasional komersial smelter pada 2025, dengan kapasitas produksi fase pertama sebesar 500.000 ton aluminium per tahun, serta menandatangani MoU dengan pihak lain untuk menyerap produksi smelter.
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - PT Adaro Minerals Tbk (ADMR) menanggapi kabar berakhirnya perjanjian dengan Hyundai Motor Company (HMC) terkait pasokan aluminium, setelah para aktivis iklim yang disokong fan K-Pop menyerukan protes atas kemitraan itu.

Direktur Adaro Minerals, Heri Gunawan mengonfirmasi, setelah Nota Kesepahaman (MoU) tidak mengikat itu berakhir pada November 2023, kedua pihak memutuskan tak melanjutkan atau memperbaruinya.

Adapun, MoU itu resmi disetujui pada November 2022 dan hanya berlaku 12 bulan. Hal itu, menurut Heri, sejalan dengan upaya Hyundai menjajaki peluang pengadaan aluminium rendah karbon menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Air ramah lingkungan di masa depan.

"Hyundai dan perseroan sepakat untuk tidak memperbarui MoU tersebut dan menjajaki peluang lain secara terpisah dan mandiri," kata Heri dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (5/4).

Sampai saat ini, ADMR mengeklaim tak ada dampak keuangan dan operasional dari berakhirnya MoU dengan Hyundai. Sebab, smelter aluminiumnya masih dalam tahap konstruksi.

Perseroan sendiri menargetkan mencapai target tanggal operasional komersial smelter itu pada 2025, dengan kapasitas produksi fase pertama sebesar 500.000 ton aluminium per tahun (TPA).

Selain dengan Hyundai, ADMR juga menandatangani MoU dengan pihak lain yang siap menyerap sampai dengan 70 persen dari total kapasitas produksi smelter aluminium milik anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). 

Lebih lanjut, ADMR juga berniat mengoptimalkan penyerapan penjualan produk aluminium ingot di pasar lokal. "Perseroan juga ingin turut berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan dengan menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja lokal pada fase konstruksi dan 1.500 tenaga kerja lokal pada
fase operasi," kata Heri dalam keterangan yang sama.

Linimasa di balik berakhirnya perjanjian Adaro Minerals dan Hyundai

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.