Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

IHSG Diperkirakan Rebound Selama Bisa Bertahan di Atas 7.000

IHSG Diperkirakan Rebound Selama Bisa Bertahan di Atas 7.000
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan dapat menguat pada Selasa (31/3), setelah rebound yang terjadi sehari sebelumnya.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, kemarin IHSG berbalik arah dari area support kuat di 6.950-7.000 dan bertahan di atas level psikologis 7.000. Itu mengindikasikan pola double bottom dan awal stabilisasi jangka pendek.

"Ke depan, terdapat secercah potensi penguatan selama IHSG mampu bertahan di atas 7.000, dengan target resisten di kisaran 7.150-7.300," kata Reza dalam risetnya.

Akan tetapi, ia menilai, pasar masih akan mencermati perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang sudah memasuki minggu kelima. Salah satu faktornya adalah keterlibatan Houthi dan tambahan pasokan AS.

Dari ranah domestik, pasar menantikan rilis data ekonomi seperti inflasi dan neraca perdagangan.

Di tengah sentimen yang ada, tim BRIDS menyoroti saham-saham berikut ini: HRUM, MEDC, dan FORE.

Lebih lanjut, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, pembentukan histogram MACD cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak di kisaran level 7.000-7.200 pada perdagangan Selasa (31/3), setelah ditutup turun 0,076 persen di level 7.091,67 kemarin.

Di tengah sentimen geopolitik, pemerintah sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga WFH sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan ekonomi. Pemerintah mengidentifikasi ada tiga sektor yang rentan terdampak, yaitu stabilitas energi, rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Beberapa langkah untuk menekan impor migas adalah dengan penghematan energi dan penguatan mandat Biodiesel 50 persen (B50). Pemerintah berencana mengumumkan secara resmi kebijakan yang ditempuh pada malam ini.

Rencana kebijakan pemerintah ini adalah sebagai upaya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi yang akan berdampak luas terhadap inflasi serta opsi agar tidak terjadi pelebaran defisit APBN. Namun untuk BBM non-subsidi berpotensi akan mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan di umumkan di 1 April 2026. 

Phintraco Sekuritas menilai, kondisi itu berpotensi menjadi faktor positif bagi ekosistem kendaraan listrik dalam jangka menengah panjang, termasuk nikel dan tembaga.

Di lain sisi, pemerintah belum memberikan kepastian mengenai pemberlakukan bea keluar terhadap ekspor batu bara, meskipun sudah masuk dalam asumsi penerimaan APBN 2026. "Sedangkan bea keluar produk turunan nikel sudah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo, namun juga belum ditentukan kapan pelaksanaannya," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

Daftar saham pillihan mereka hari ini, meliputi: BUMI, DEWA, MAPI, MBMA, dan SMDR.

Share
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

IHSG Diperkirakan Rebound Selama Bisa Bertahan di Atas 7.000

31 Mar 2026, 08:12 WIBMarket