BREN dan DSSA berusaha meningkatkan jumlah saham yang beredar di publik. DSSA menempuh langkah tersebut dengan mengalihkan 9,63 miliar saham treasuri ke pasar. Pengalihan ini sekaligus dilakukan untuk memenuhi ketentuan OJK terkait kewajiban emiten mengalihkan saham hasil buyback dalam jangka waktu yang ditentukan.
Sementara itu, BREN lebih dahulu berupaya memperbesar free float melalui penjualan sebagian saham milik pemegang saham utama. Setelah BREN masuk daftar HSC pada April 2026, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang dikendalikan Prajogo Pangestu, melepas sekitar 38,4 juta saham BREN pada 20 April 2026.
Transaksi tersebut mencapai Rp251,39 miliar dengan harga rata-rata Rp6.546 per saham. Setelah transaksi, porsi kepemilikan BRPT di BREN berkurang menjadi sekitar 64,63 persen.
Upaya serupa sebelumnya dilakukan Green Era Energy Pte. Ltd., afiliasi bisnis Prajogo Pangestu. Green Era melepas 350 juta saham BREN pada 6 April 2026 dengan harga Rp4.510 per saham atau senilai sekitar Rp1,57 triliun.
Langkah DSSA dan BREN tersebut menunjukkan upaya emiten dan pemegang sahamnya untuk menambah pasokan saham di pasar. Dengan lebih banyak saham tersedia untuk diperdagangkan publik, likuiditas saham berpotensi meningkat.
Apa saja tiga saham baru yang masuk HSC? | Tiga saham baru tersebut adalah AGAR, ALKA, dan BKDP. |
Kapan AGAR dan ALKA masuk HSC? | AGAR dan ALKA masuk daftar HSC pada 4 Agustus 2026. |
Kapan BKDP masuk HSC? | BKDP masuk daftar HSC pada 5 Agustus 2026. |
Saham apa yang keluar dari HSC? | LUCY dicabut dari daftar HSC pada 2 Juli 2026. |