Pemerintah masih menguji sistem untuk mengidentifikasi konsumen Pertalite. Menurut Purbaya, sistem Pertamina sudah dapat memilah konsumen berdasarkan kendaraan maupun kelompok desil. Namun, pemerintah belum menetapkan skema final pembatasannya.
"Konsumsi mungkin akan sama, cuma subsidi akan berkurang karena sebagian terpaksa beli yang tidak bersubsidi. Kita lihat nanti seperti apa, kita sedang pelajari sistemnya seperti apa, yang jelas saya sudah lihat sistemnya bisa dijalankan, mobil per mobil, atau desil per desil. Yang jelas kita incar adalah yang atas aja supaya mereka beli sesuai dengan kemampuan mereka," kata Purbaya.
Pemerintah menargetkan pembatasan Pertalite mulai diterapkan sebelum 2027. Namun, Purbaya belum menyebut tanggal pelaksanaannya.
"Sebelum tahun depan. Akhir-akhir tahun lah," tutur Purbaya.
Sementara itu, Bahlil memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan dinaikkan meski harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berfluktuasi.
"Saya sama Pak Menteri bersepakat bahwa harga ICP dunia yang tidak menentu sampai sekarang, kami dua punya komitmen atas dasar perintah Pak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik," kata Bahlil.
Selain kelompok desil, pemerintah mempertimbangkan jenis kendaraan sebagai kriteria pembatasan. Bahlil mencontohkan pemilik mobil mewah seperti BMW dan Mercedes-Benz sebagai konsumen yang seharusnya tidak menggunakan BBM bersubsidi.
"Jadi gini, nanti menyangkut dengan pembatasan itu nanti kan ada jenis kendaraan. Jangan pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi,” ujar Bahlil.