Jokowi dan Bos ADB Bahas Mekanisme Pendanaan di ASEAN
Pendanaan ADB berperan penting dalam pertumbuhan ASEAN.
11 November 2022
Jakarta, FORTUNE – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Presien Asian Development Bank (ADB), Masatsugu Asakawa membahas tentang mekanisme pendanaan di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Infrastructure Fund hingga ASEAN Catalytic Green Facility.
Menurutnya, pendanaan ini adalah bagian dari inisiatif konkret yang bisa bermanfaat bagi pemulihan perekonomian global yang inklusif, terutama di kawasan ASEAN. “Kita mendorong mekanisme pembiayaan ASEAN dan ADB dapat mendukung area kerja sama ASEAN Outlook in the Indo-Pacific,” katanya dalam pertemuan dengan ADB di Kamboja (10/11).
Berdasarkan laporan ADB, pertumbuhan ekonomi di ASEAN memang lebih baik dari kawasan lain, namun nyatanya jumlah tersebut turun dari 5,1 persen menjadi 4,9 persen. “Penurunan permintaan global akan tingkatkan laju inflasi dan instabilitas finansial di kawasan. Tentu ini harus membuat kita semua di kawasan waspada,” ujarnya.
Tetap optimistis saat tak kondusif
Meski situasi dunia sedang tidak kondusif, Jokowi tetap menyatakan optimistis kawasan ASEAN bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. Apalagi, Indonesia akan mengetuai ASEAN pada tahun 2023 mendatang.
“Di tengah ancaman resesi global, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tumbuh 5,4 persen pada 2022, dan 5 persen pada 2023, didukung menguatknya konsumsi domestik, surplus neraca perdagangan, dan kapasitas fiskal yang cukup sehat,” ujar Presiden.
Pembangunan IKN
Jokowi juga menyampaikan ADB berperan penting dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Pemindahan Ibu Kota Negara adalah salah satu agenda penting, dalam rangka membangun pusat pertumbuhan baru.
“Pengalaman panjang ADB dalam agenda pembangunan dunia sangat bermanfaat mendukung komitmen Indonesia, termasuk dukungan bagi pembangunan IKN,” kata Jokowi.
Sementara itu Presiden ADB, Masatsugu Asakawa menyampaikan selamat atas kinerja ekonomi Indonesia yang sangat baik. Selain itu, Presiden ADB juga mengapresiasi kepemimpinan Indonesia di G20, menurutnya sejauh ini Indonesia dinilai baik dapat menavigasi G20.
Sektor bisnis harus waspada
Dalam pertemuan lain, yakni ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC), Jokowi mengingatkan para pebisnis untuk tetap waspada. “Total GDP ASEAN masih di atas 3 triliun dolar AS dan ASEAN ekonomi terbesar ke-5 dunia. Dalam situasi guncangan finansial ini, tentu kita semua harus waspada. Kemitraan dunia usaha dan pemerintah harus makin diperkuat. Sektor swasta memiliki peran sangat penting,” ujarnya.
Sebagai strategi jangka pendek, Presiden mendorong untuk memperkuat resiliensi ekonomi ASEAN. Hal ini memerlukan countermeasures dan kebijakan makroprudensial pemerintah yang adaptif untuk stabilkan keuangan dan stimulasi pergerakan ekonomi.
Sedangkan, untuk jangka panjang, kunci daya saing ASEAN menurut Jokowi adalah inovasi. "Inovasi pastikan kita kompetitif di masa depan. Ekonomi digital dan ekonomi hijau adalah masa depan ASEAN. Ekonomi digital mampu tingkatkan produktivitas dan perluas akses pasar, sementara ekonomi hijau pastikan ASEAN terus tumbuh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Related Articles