Comscore Tracker
NEWS

Stok Minyak Goreng di Eropa Menipis Imbas Perang Rusia-Ukraina

Ukraina memenuhi 35-45 persen kebutuhan minyak goreng Eropa.

Stok Minyak Goreng di Eropa Menipis Imbas Perang Rusia-UkrainaIlustrasi Konflik rusia-ukraina. Shutterstock/Tomasz Makowski

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Invasi Rusia ke Ukraina yang terjadi beberapa waktu terakhir menyebabkan kelangkaan minyak goreng jenis bunga matahari (sunflower oil) di Uni Eropa (UE). Perang turut menyebabkan pasokan bahan baku minyak goreng jenis tersebut sulit dipasok. 

Melansir Reuters, Minggu (24/4), Kelompok Industri Minyak Nabati dan Protein Meal Eropa (FEDIOL) mengungkapkan, perang telah menghentikan pengiriman sunflower oil Ukraina ke UE. Biasanya, komoditas Ukraina ini dikirim ke UE hingga 200.000 ton per bulan atau memenuhi 35-45 persen kebutuhan minyak goreng di Benua Biru.

FEDIOL menyatakan bahwa stok yang tersedia saat ini hanya akan mencukupi kebutuhan 4-6 minggu. “Di luar periode itu, kemungkinan kurangnya ketersediaan sunflower oil mentah dan alternatif yang terbatas akan menyebabkan kekurangan sunflower oil olahan atau botol di pasar Eropa. Ini akan dirasakan hingga ke tingkat konsumen,” katanya.

Kontribusi minyak biji bunga matahari yang digunakan Eropa

Bunga matahari.

Berbeda dengan Indonesia yang menggunakan minyak goreng berbahan baku kelapa sawit, di UE dan beberapa kawasan, menggunakan biji bunga matahari sebagai bahan dasar pembuatan minyak goreng.

Dibandingkan kelapa sawit, minyak bunga matahari diklaim memiliki kandungan vitamin E yang lebih tinggi dan kandungan lemak jenuh yang lebih rendah. Minyak ini juga populer karena memiliki rasa yang cukup netral, sehingga tak memengaruhi rasa makanan.

Bila melihat pasar global, maka Rusia dan Ukraina berkontribusi hingga 80 persen pada ekspor sunflower oil. Maka, perang pun berimbas pada sejumlah negara pengimpor, seperti UE dan India.

UE harus mencari alternatif bahan dasar minyak goreng

Uni Eropa.

Dengan kelangkaan ini, maka produsen UE mencari alternatif sebagai solusi. Salah satunya, mengalihkan volume terbatas sunflower oil yang ditujukan untuk bahan bakar biodiesel ke pasar pangan.

UE diketahui juga akan kembali menggunakan minyak goreng berbahan dasar lain, seperti kelapa sawit. Selain itu, kawasan ini juga melirik minyak goreng berbahan alternatif lain, seperti minyak lobak, minyak kedelai dan minyak tropis.

Momentum bagi minyak goreng berbahan dasar kelapa sawit

Pekerja di perkebunan kelapa sawit sedang memanen buah sawit, untuk diproses lebih lanjut dikirim ke pabrik kelapa sawit, Kalimantan Timur, 13 Maret 2019.

Kembalinya penggunaan minyak kelapa sawit di pasar UE, di sisi lain membuka peluang bagi ekspor Indonesia. Guru besar John Cabot University Roma, Pietro Paganini, mengungkapkan bahwa kelangkaan minyak goreng berbahan dasar non-sawit membuat UE perlu mencari alternatif dan sawit adalah pilihan terbaik.

“Minyak kelapa sawit menawarkan lebih banyak kesinambungan dan merupakan lemak yang lebih baik untuk makanan mereka,” kata Paganini

Paganini mengatakan, kelangkaan sunflower oil ini adalah momentum yang sangat baik bagi produsen minyak sawit, seperti Indonesia, untuk masuk ke Eropa. Namun, para produsen tersebut harus meningkatkan kualitas, keberlanjutan, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghasilkan lebih banyak minyak sawit. “Minyak sawit ada di sini (Eropa) untuk menyelamatkan,” katanya.

Related Articles