BI Klaim Kebijakan Pemerintah Saat Ini Mampu Jaga Stabilitas Ekonomi

- Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi dan bauran kebijakan fiskal-moneter saat ini mampu menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan global, disampaikan dalam rangkaian pertemuan dengan investor di Amerika Serikat.
- Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan fokus kebijakan diarahkan pada penguatan stabilitas eksternal melalui suku bunga, intervensi valas, pengelolaan likuiditas, serta dukungan fiskal pemerintah menjaga defisit di bawah 3 persen PDB.
- BI menerapkan bauran kebijakan terintegrasi yang mencakup moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran digital untuk mendukung transformasi ekonomi menuju pertumbuhan berkelanjutan berbasis hilirisasi dan teknologi.
Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia mengklaim bahwa fundamental ekonomi dan bauran kebijakan fiskal dan moneter saat ini masih mampu menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan global.
Hal ini diungkapkan dalam pertemuan dengan investor di New York dan Boston, termasuk forum kebijakan di Harvard Kennedy School, serta agenda bilateral dengan perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kegiatan ini merupakan bagian dari partisipasi dalam IMF Spring Meeting 2026 di Amerika Serikat.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan arah kebijakan saat ini difokuskan pada penguatan stabilitas eksternal melalui instrumen suku bunga, intervensi valuta asing, dan pengelolaan likuiditas. Kebijakan tersebut juga ditopang oleh komitmen fiskal pemerintah dalam menjaga defisit di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), melalui reformasi subsidi dan realokasi anggaran yang lebih produktif.
"Kami akan terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global," ujar Perry, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (14/4).
Bank Indonesia mengungkapkan, pendekatan kebijakan yang diambil tidak lagi bersifat konvensional. Otoritas moneter mengedepankan bauran kebijakan terintegrasi, yang mengombinasikan kebijakan moneter berorientasi stabilitas, kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran guna mendukung aktivitas ekonomi dan percepatan digitalisasi.
Dalam jangka menengah, arah kebijakan BI juga dikaitkan dengan transformasi struktural ekonomi, termasuk melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi, guna mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
"Secara keseluruhan, rangkaian pertemuan ini memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tantangan global," kata Perry.



















