Tangerang, FORTUNE — Minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) beserta produk turunannya terus memperkokoh posisi India sebagai penyumbang surplus perdagangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Amerika Serikat.
Pada semester I-2026, Indonesia mengalami surplus US$6,68 miliar dari total perdagangan US$11,89 miliar dengan negara Asia Selatan tersebut, mendorong perluasan pasar ekspor ke kawasan non-tradisional seperti Asia Selatan dan Afrika.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan CPO dan batu bara mendominasi komoditas ekspor Indonesia ke India, dengan produk turunan minyak sawit sebagai kontributor paling dominan.
“Memang CPO, batu bara yang ke India. Tapi CPO yang paling banyak. Yang mendominasi CPO, terutama produk-produk turunan juga,” kata Budi usai pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10).
Guna mempertahankan pertumbuhan ekspor dan surplus neraca perdagangan, pemerintah berupaya memperluas keberadaan produk nasional di pasar India. Menurut Budi, India merupakan mitra strategis yang memiliki kapasitas pasar besar untuk menyerap komoditas unggulan Indonesia.
“Surplus kedua terbesar kita ke India. Yang pertama Amerika. Jadi, terus kita jaga pasar itu supaya tetap naik terus ekspor kita,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia dan India mencapai US$23,13 miliar sepanjang 2025. Kinerja tersebut terdiri dari ekspor Indonesia sebesar US$18,30 miliar dan impor US$4,84 miliar, sehingga menghasilkan surplus perdagangan US$13,46 miliar.
Pada periode Januari–Juni 2026, total perdagangan kedua negara mencapai US$11,89 miliar. Perolehan ini disokong oleh ekspor Indonesia senilai US$9,28 miliar dan impor dari India sebesar US$2,60 miliar.
Selain CPO dan batu bara, komoditas ekspor nonmigas Indonesia ke India mencakup baja nirkarat, asam lemak monokarboksilat industri, dan korundum buatan. Sebaliknya, pasokan impor Indonesia dari India meliputi daging kerbau, kacang tanah, kendaraan pengangkut barang, suku cadang serta aksesori traktor, dan tembakau mentah.
Pemerintah juga memacu peningkatkan penetrasi produk ke Pakistan yang dinilai konsisten menyumbang surplus perdagangan. Terkait perincian persentase pertumbuhan secara tahunan, Budi menyebut data komparatif belum dapat dipaparkan secara utuh karena periode tahun berjalan belum genap satu tahun.
Upaya perluasan pasar ini sejalan dengan pandangan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Ia menilai kawasan Asia Selatan dan Afrika menyimpan potensi besar dalam mendorong ekspor nasional di luar mitra dagang tradisional. Negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan India menjadi penyumbang surplus terbesar di kawasan Asia Selatan.
Di luar Asia Selatan, pemerintah melihat peluang penetrasi produk manufaktur Indonesia, khususnya pakaian, untuk menembus pasar Afrika. Produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia dinilai memiliki daya saing tinggi dari segi harga.
Diversifikasi tujuan ekspor ini diharapkan dapat memperluas jangkauan produk nasional sekaligus memperkuat kinerja perdagangan luar negeri secara berkelanjutan.
