Jakarta, FORTUNE - Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) kawasan Blok M, Jakarta Selatan, memang sudah dibongkar pada 2014. Namun, kenangan tentang jembatan itu masih tersimpan rapi di benak para mantan penggunanya.
Karina, 29, ingat betul pesan orang tua di sekitarnya bila ia harus melewati JPO itu pada masa sebelum hadirnya MRT Jakarta. Tas harus taruh di depan dan dipeluk erat. Alasan keamanan mendasari petuah itu.
Namun, jembatan itu justru memiiliki keunikan. "Di situ [dulul] justru banyak orang jualan yang enggak akan kepikiran untuk [kita] beli [barangnya] kalau enggak lewat [sana]," katanya kepada Fortune Indonesia (5/8). "Contohnya, waktu itu temenku mau menonton [film] di Blok M Plaza, terus kacamatanya ketinggalan, terus dia beli kacamata di JPO itu, harganya Rp15.000. Akhirnya bisa menonton tanpa rabun."
JPO Blok M sendiri dulunya berlokasi di antara Blok M Plaza dan Taman Martha Tiahahu (kini Taman Literasi). Fasilitas itu dibongkar pada 2014, sejalan dengan proses pembangunan MRT Jakarta waktu itu. Selaras dengan hal itu pula, dilakukan revitalisasi di sejumlah titik di kawasan tersebut, seperti Taman Martha Tiahahu. Beberapa lokasi hiburan, seperti Plaza Blok M dan M Bloc Space, kini kian terhubung karena peningkatan fasilitas pedestrian. Area itu sekarang juga mengintegrasikan sejumlah opsi transportasi publik, termasuk MRT Jakarta, TransJakarta, dan JakLingko.
Sebagai alumni SMA 6 Jakarta, Karina dan teman-temannya memang banyak menghabiskan waktu di kawasan Blok M pada 2012--2015. Saat itu, kawasan itu belum seperti saat ini. Ia dan teman-temannya menganggap area itu lebih tertata sekarang, dibandingkan dengan saat mereka masih SMA.
Fasilitas lain di sana, seperti Taman Martha Tiahahu, dinilai lebih mumpuni karena beberapa aspek: keamanan, ketersediaan trotoar di sekitarnya, hingga aksesibilitas. "Pas zaman [nama] Taman Martha Tiahahu [selalu dinasihati], 'Jangan lewat situ nak, banyak preman nongkrong nanti kamu dicopet!'. Pas jadi Taman Literasi [berubah kesannya jadi], 'Nanti titik kumpulnya di Tamlit ya!'," kata Karina.
Dalam hematnya, kawasan Blok M dan sekitarnya kini jauh lebih hidup dibandingkan saat ia dan kawan-kawan masih duduk di bangku SMA. Menurutnya, keramaian di sana dulu bersifat sementara karena orang-orang hanya singgah atas alasan pekerjaan, sekolah, dan sebagainya. Tapi sekarang, baginya dan teman-teman, sudah setara tempat wisata, di mana pengunjungnya benar-benar menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di area itu.
"Dulu tuh orang-orang ke situ untuk tujuan spesifik aja. Tapi, pas MRT sudah ada tuh benar-benar jadi tempat orang-orang main gitu!" Kenang Karina.
Pandangan Karina menunjukkan dampak transformasi area Blok M dalam satu dekade terakhir. Revitalisasi area Blok M memainkan peran krusial terhadap fenomena itu. PT MRT Jakarta (Perseroda) merupakan salah satu pihak di balik revitalisasi itu. Dalam peta jalan perusahaan, terdapat 9 Kawasan Berorientasi Transit (Transit-Oriented Development) di sepanjang jalur pengembangan MRT Jakarta. Salah satunya, Green Creative Hub, yang mencakup area Blok M dan ASEAN. Termasuk Taman Literasi, jembatan Stasiun Blok M BCA, jembatan interkoneksi ASEAN, dan Blok M Hub.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan, integrasi beberapa titik di area tersebut meningkatkan market value dari properti di sekitarnya. Kendati demikian, belum terdapat kajian spesifik perusahaan yang mengukur besaran pertumbuhan market value properti di kawasan itu, sehingga ia tak dapat menggambarkan besaran persentase kenaikan secara detail.
Namun, ia mengatakan, berdasarkan kajian Asian Development Bank (ADB) mengenai dampak sistem mass rapid transit terhadap nilai properti di negara berkembang, terdapat indikasi bahwa properti komersial di dalam area tangkapan (catchment area) stasiun dapat mengalami premium nilai hingga sekitar 30 persen. Selain itu, properti residensial di area yang sama dapat mengalami premium sekitar 5 persen.
Sebaliknya, di luar catchment area, nilai properti cenderung menurun seiring bertambahnya jarak dari stasiun, dengan estimasi sekitar 15 persen per kilometer untuk properti komersial dan 8 persen untuk properti residensial.
"Angka tersebut merupakan hasil studi internasional dan belum merepresentasikan kondisi spesifik TOD MRT Jakarta," kata Sagita kepada Fortune Indonesia (31/7).
Salah satu pemilik properti di kawasan itu, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), membenarkan adanya dampak positif terhadap kenaikan mobilitas masyarakat di kawasan Blok M setelah revitalisasi. Pada 2019, perseroan menyebut pertumbuhan pengunjung ke propertinya, Blok M Plaza, bahkan mencapai 150 persen.
Direktur PWON, Minarto Basuki, mengatakan, perseroan terus melihat tren positif terhadap aspek itu, seiring dengan semakin terintegrasinya area itu dengan berbagai moda transportasi publik. Kendati ada berbagai faktor yang memengaruhi performa pusat perbelanjaan, menurutnya, peningkatan aksesibilitas melalui kawasan TOD jadi salah satu pendorong penting yang memperkuat daya tarik Blok M Plaza.
"Peningkatan trafik itu turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kinerja operasional mal, baik dari sisi tingkat kunjungan maupun penjualan tenant," katanya kepada Fortune Indonesia (31/7). "Kami juga telah melakukan berbagai upaya repositioning dan penyegaran tenant mix agar selaras dengan profil pengunjung yang kini semakin beragam, termasuk meningkatnya pengunjung dari kalangan muda dan pengguna transportasi publik."
Pernyataan PWON juga didukung riset akademisi. Jurnal bertajuk Analysis of The Impact of Revitalization of The Blok M Area on Business Growth And Local Economic Activity (2026) oleh Sinaga, Permana, dan Rachmawati menyebut, secara kualitatif, sebelum adanya MRT, jumlah pengunjung Blok M hanya sekitar 8.000--10.000 orang per hari. Namun, setelah MRT beroperasi dan integrasi berbagai titik dilakukan, total pengunjung meningkat menjadi 20.000--25.000 orang per hari, bahkan bisa menyentuh 35.000 orang per hari seiring dengan layanan yang makin dioptimalisasi.
Pada momen tertentu, misal libur akhir tahun 2025-2026, MRT Jakarta melaporkan ada 145.855 pengunjung yang datang ke Blok M Hub.
