Jakarta, FORTUNE - Asian Development Bank (ADB) dalam risetnya mengidentifikasi dua risiko utama yang menekan pertumbuhan dan proyeksi inflasi kawasan Asia yakni konflik Timur Tengah dan El Nino.
Pertama melebarnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya intensitas perang Rusia di Ukraina dapat mengakibatkan harga energi global tetap tinggi dan bergejolak, sekaligus menyeret komoditas lain ikut mengalami gejolak harga.
Kedua, El Niño yang sangat kuat yang diperkirakan akan terus berlangsung sampai kuartal pertama 2027 dinilai dapat meningkatkan permintaan energi dan menurunkan produksi pertanian, yang berakibat naiknya harga BBM dan harga pangan.
“El Niño yang semakin menguat disertai kondisi yang lebih kering berarti hasil panen yang lebih sedikit dan berkurangnya produksi listrik tenaga air, sehingga mendorong kenaikan harga pangan dan energi, dengan dampak terberat dirasakan oleh kelompok yang paling rentan. Krisis energi yang berkepanjangan serta munculnya kembali risiko di pasar keuangan membuat pemerintah semakin perlu bersiap dan melindungi masyarakat yang paling terdampak,” kata Presiden ADB Masato Kanda dalam keterangannya, Kamis (24/7).
Ia memprediksi koreksi tajam pada valuasi saham berbasis AI, pengetatan kondisi keuangan, dan berulangnya lagi ketidakpastian kebijakan perdagangan merupakan risiko yang dapat memperburuk kemerosotan.
Hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang dan Pasifik diperkirakan akan melambat dari 5,5 persen pada 2025 menjadi 5 persen tahun ini. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diprediksi naik tipis ke 5,1 persen pada 2027.
Prakiraan 2026 ini lebih tinggi 0,1 poin persentase daripada proyeksi sebelumnya pada bulan Juli.
“Kawasan ini tetap tangguh, namun risikonya semakin meningkat,” ujar Presiden ADB Masato Kanda.
Sementara itu, ADB memangkas perkiraan inflasi kawasan selama 2026 menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen pada bulan Juli, berkat sejumlah langkah stabilitasi harga yang mampu mengimbangi sebagian dampak harga energi yang masih tetap tinggi.
Proyeksi inflasi 2027 direvisi naik tipis menjadi 3,5 persen, dibandingkan dengan prakiraan 3,4 persen yang disampaikan bulan Juli. Revisi proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027 masih berada di atas 3 persen yang dicatat selama 2025.
Sementara itu, prospek pertumbuhan subkawasan cukup beragam.
Kinerja yang lebih kuat daripada perkiraan selama paruh pertama 2026 menjadikan proyeksi Asia Tenggara yang sedang berkembang sedikit lebih baik, dengan proyeksi pertumbuhan 2026 dan 2027 kini menjadi 4,7 persen dan 4,9 persen, naik dari prakiraan sebelumnya masing-masing 4,6 persen dan 4,8 persen. Proyeksinya tidak berubah untuk Asia Timur yang sedang berkembang, termasuk bagi Republik Rakyat Tiongkok.
Untuk Asia Selatan, proyeksi pertumbuhan tahun ini direvisi naik menjadi 6,4 persen dari 6 persen pada bulan Juli, didorong oleh investasi publik yang kuat dan kokohnya pertumbuhan ekspor India. Proyeksi tahun 2027 diturunkan 0,2 poin persentase menjadi 6,5 persen, yang mencerminkan perkiraan yang lebih rendah untuk Afganistan, Bangladesh, India, dan Nepal di tengah guncangan yang berkaitan dengan perdagangan, energi, dan cuaca.
Di Kaukasus serta Asia Tengah dan Barat, proyeksi direvisi turun tipis 0,1 poin persentase, baik untuk 2026 maupun 2027, masing-masing menjadi 3,7 persen dan 4,1 persen, terutama karena permintaan eksternal yang lebih lemah daripada harapan, terutama di Turki.
Berbagai perekonomian di Pasifik mengalami revisi negatif terbesar, dengan proyeksi untuk 2026 dan 2027 dipangkas 0,3 poin persentase menjadi masing-masing 3 persen dan 2,9 persen, akibat gangguan pasar energi yang berkepanjangan dan perkiraan efek El Niño terhadap pertambangan dan pertanian.
