Comscore Tracker
NEWS

Badan Pangan Nasional Akan Salurkan 5000 Sapi Hidup Jelang Ramadan

Penyaluran sapi hidup ini akan dilakukan secara bertahap.

Badan Pangan Nasional Akan Salurkan 5000 Sapi Hidup Jelang RamadanANTARA FOTO /Irwansyah Putra/tom.

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE – Badan Pangan Nasional atau National Food Agency akan mendistribusikan 5.000 ekor sapi hidup siap potong ke BUMN ID Food Group, yaitu PT Berdikari dan BGR Logistik Indonesia.

Mobilisasi hewan tersebut dilakukan bertahap dari peternak di sejumlah daerah seperti Boyolali, Jawa Tengah, dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

“Dari visit peternak di (Jawa Timur) pekan lalu dan peninjauan beberapa lahan kandang sapi milik BUMN, pekan ini mulai terisi mobilisasi sapi dari peternak daerah (Jawa Timur), (Jawa Tengah), paralel pekan depan peninjauan persiapan sapi dari Sumbawa, NTB,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, dalam keterangannya, Minggu (20/3).

Pada pekan kedua puasa Ramadan, daging kerbau impor juga akan masuk via Perum BULOG.

Dengan begitu, menurutnya, pasokan daging dan stabilitas harga pangan jelang Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha kelak terjaga.

BUMN Holding Pangan ID Food melalui PT Berdikari juga telah menerima penugasan dari pemerintah untuk kontribusi penyediaan stok daging sapi Brasil.

"Impor memang harus dikurangi tetapi bukan berarti cadangan pangan kita tidak baik. Saya akan bersama Kementerian Pertanian mendorong optimalisasi sentra sapi untuk memenuhi produk lokal," katanya.

Pemerintah harus lakukan perbaikan

Laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) menunjukkan rata-rata harga daging sapi pada 18 Maret 2022 adalah Rp130 ribu-Rp140 ribu per kilogram. Sejumlah pedagang memperkirakan harga daging sapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, masih akan tinggi hingga Ramadan tiba.

Dekan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB),  Arief Daryanto, menyarankan pemerintah untuk memperbaiki sistem logistik dalam perdagangan global dan perdagangan domestik menyusul mahalnya harga daging sapi dalam negeri, .

Menurutnya, kenaikan harga daging sapi di pasar global merupakan efek dari gangguan pada sistem produksi global selama pandemi, selain pula disrupsi pada logistik global.

"Sistem logistik dalam negeri pun berbiaya mahal. Rantai distribusi daging sapi lokal harus melewati tujuh hingga sembilan tahapan sebelum sampai di tangan konsumen, sehingga membuat biaya distribusi sangat tinggi," kata Arief seperti dikutip Antara, Senin (21/3).

Indonesia harus cari pasokan dari negara lain

Arief mengatakan Australia merupakan salah satu pengimpor daging sapi terbesar ke Indonesia. Namun, karena Negeri Kangguru tersebut mengalami kekurangan pasokan, harga pun melonjak.

"Dari sisi penawaran (supply) dapat dijelaskan bahwa pada saat ini terdapat persaingan yang sangat tinggi untuk mendapatkan daging dari Australia karena permintaan global pun meningkat," katanya.

Saat ini Indonesia sangat bergantung pada pasokan daging sapi dari Australia. Ia pun menyarankan Indonesia ke depan dapat memperluas impor daging sapi ke Brasil dan Meksiko.

Related Articles