Comscore Tracker
NEWS

Inggris Makin Dekat ke Jurang Resesi

Indeks ekspektasi bisnis Inggris merosot tajam di Juni 2022.

Inggris Makin Dekat ke Jurang ResesiIlustrasi inflasi di Inggris. Shutterstock/Sergey Chayko

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Inflasi yang terus melonjak di Inggris membuat perusahaan bersiap-siap untuk menghadapi kemerosot ekonomi yang lebih dalam pada kuartal ketiga tahun ini. S&P Global dalam laporan terbarunya menyatakan purchasing manager index di Inggris pada periode Juni tertahan pada level 53,1. Sementara, volume pemesanan turun dengan laju paling tajam sejak pemulihan ekonomi dari pandemi dimulai pada Maret 2021. 

Perusahaan juga melaporkan meningkatnya tekanan pembayaran dan kekhawatiran tentang kenaikan tarif bahan bakar dan energi.

Chris Williamson, Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global Market Intelijen mengatakan, perekonomian Inggris mulai masuk pada mode "zombie" di mana pertumbuhan bisnis saat ini hanya didukung oleh pesanan pada bulan-bulan sebelumnya akibat macetnya permintaan.

Meski demikian, jika dilihat berdasarkan sektornya, bisnis penyedia layanan atau jasa melaju di atas industri manufaktur. Kondisi tersebut terekam oleh data pertumbuhan margin produksi bisnis jasa di tengah lemahnya permintaan akibat masalah pasokan yang berlangsung sampai bulan ini. 

Pemulihan yang berkelanjutan dari dampak pandemi serta meningkatnya mobilitas dan pertemuan tatap muka telah mendorong pengeluaran konsumen dan membantu peningkatan aktivitas bisnis jasa.

"Produsen sedang berjuang menghadapi penurunan pesanan, terutama untuk ekspor, dan sektor jasa sudah melihat tanda-tanda lonjakan pertumbuhan baru-baru setelah pandemi membuat mereka menahan belanja meskipun biaya hidup meningkat," ujarnya dikutip Fortune Indonesia, Jumat (24/6).

Di sisi lain, meski pertumbuhan bisnis baru lebih lemah, survei terbaru S$P Global melihat adanya peningkatan aktivitas yang kuat dan dipercepat dengan tumbuhnya angka tenaga kerja baru. Bulan ini juga menandai penciptaan lapangan kerja tercepat dalam tiga bulan terakhir, dengan mayoritas perekrutan berasal dari sektor jasa.

Meski demikian, tingkat kepegawaian yang tinggi itu juga menggambarkan besarnya peningkatan kebutuhan bisnis dan masalah kelangkaan talenta. Responden survei terus melaporkan kesulitan yang cukup besar dalam menemukan kandidat yang cocok untuk mengganti staf yang pergi.

Tak hanya itu, upah yang tinggi untuk para pekerja juga menambah beban biaya di perusahaan swasta. Diukur secara keseluruhan, harga input meningkat pada kecepatan yang sedikit lebih lambat daripada di bulan Mei, tetapi tingkatnya inflasi masih tercepat kedua sejak indeks dimulai pada Januari 1998. 

Dalam hal ini hanya perusahaan sektor jasa cenderung mencatat pembayaran gaji lebih tinggi dan tak terlalu terpengaruh dengan kenaikan biaya bahan bakar dan dampak kekurangan pasokan.

Inflasi produsen dialihkan ke konsumen

Memang tingkat inflasi biaya output turun ke level terendah sejak Februari. Namun angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan periode lain selama dua dekade terakhir. Kebutuhan untuk membebankan biaya energi, bahan bakar, dan upah yang lebih tinggi ke konsumen pun mulai dilaporkan secara luas oleh produsen dan penyedia layanan. 

"Meskipun ada beberapa tanda bahwa inflasi akan segera terjadi puncaknya, data survei menunjukkan tingkat inflasi akan tetap tinggi secara historis untuk beberapa waktu mendatang, menunjukkan bahwa Inggris tampaknya siap untuk kombinasi yang mengganggu resesi dan inflasi tinggi saat kita bergerak ke paruh kedua tahun ini," jelasnya.

Alhasil, kekhawatiran tentang inflasi yang terus tinggi tersebut membuat proyeksi pertumbuhan output di tahun depan terkoreksi. Indeks ekpektasi bisnis, misalnya, turun 4,6 poin di bulan Juni, dan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak awal pandemi. Baik produsen dan penyedia layanan melaporkan tingkat optimisme bisnis yang terendah sejak Mei 2020.

"Kepercayaan bisnis sekarang telah merosot ke tingkat yang di masa lalu biasanya menandakan resesi yang akan segera terjadi. Kelemahan arus data ekonomi yang luas selama ini di kuartal kedua menunjukkan penurunan PDB yang nomor PMI berwawasan ke depan menyarankan akan mengumpulkan momentum di kuarter ketiga," tandas Chris Williamson.

Related Articles