Comscore Tracker
NEWS

IPO, Adaro Minerals Tawarkan Saham Perdana Rp100-125

Penawaran awal dimulai 9-16 Desember.

IPO, Adaro Minerals Tawarkan Saham Perdana Rp100-125Kapal tongkang batu bara melintas di kali CBL, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Selasa (9/11/2021). KemenESDM mencatat harga batu bara acuan menyentuh angka US$215,01 atau naik 33 persen dibanding bulan sebelumnya. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.

by Hendra Friana

Jakarta FORTUNE - Anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Adaro Minerals Indonesia berencana melakukan initial public offering (IPO) di bursa pada 30 Desember 2021.

Mengutip laman resmi e-IPO, Jumat (10/12). Adaro Minerals Indonesia bakal menggunakan kode emiten ADMR dan melepas 6,04 miliar saham atau setara dengan 15 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.

Harga penawaran rencananya berkisar antara Rp100-Rp125 per saham. Dus, dari IPO tersebut, Adaro Minerals berpotensi meraup dana segar hingga Rp756,07 miliar. Sementara itu, masa penawaran awal bakal dimulai pada 9-16 Desember sedangkan penawaran umum dilaksanakan pada 24-28 Desember. ADMR, bakal menggandeng PT Ciptadana Sekuritas sebagai penjamin emisi efek.

Head of Corporate Communication Adaro Febriati Nadira mengatakan, sebagai produsen batu bara kokas keras satu-satunya di Indonesia, Adaro Minerals cukup optimistis untuk listing di bursa. Rencananya, ungkap Nadira, dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan sebagian besar untuk belanja modal anak perusahaan.

“Batu bara kokas/metalurgi merupakan raw material dalam pembuatan besi baja. Kami yakin bahwa prospek batu bara metalurgi akan tetap positif seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya permintaan atas besi baja,” jelasnya

Informasi Perusahaan

Sebagai informasi, dalam menjalankan usahanya, ADMR dan anak perusahaannya didukung dengan rantai pasokan yang terintegrasi dari tambang hingga ke stockpile dan transshipment area.

Masing-masing dari 5 perusahaan anak Adaro Minerals Indonesia mempunyai konsesi tambang berdasarkan PKP2B yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dengan total luas 146.579 hektar. Pada 31 Agustus 2021, keseluruhan konsesi PKP2B tersebut memiliki sumber daya sebesar 980 juta ton dan cadangan sebesar 170,7 juta ton batu bara metalurgi berkualitas tinggi. 

Kelima konsesi PKP2B tersebut merupakan bagian dari Cekungan Kutei Atas (Upper Kutei Basin), yang memiliki endapan batu bara metalurgi yang merupakan salah satu area greenfields terbesar secara global.

Pada 2020, perusahaan anak ADMR memproduksi batu bara sebesar 1,88 juta ton, atau 70 persen di atas produksi pada 2019 yang mencapai 1,1 juta ton. Seluruh batu bara yang diproduksi pada 2020 merupakan batu bara metalurgi jenis Hard Coking Coal (HCC) dari konsesi Maruwai yang memulai produksi pada 2019. 

Konsesi Maruwai mengandung batu bara HCC mid-vol kualitas tinggi dengan kandungan abu dan fosfor yang rendah. Pada periode delapan bulan yang berakhir pada tanggal 31 Agustus 2021, perusahaan anak telah melakukan penjualan sebanyak 1,43 juta metrik ton batu bara yang dikirim ke pasar internasional meliputi Cina, India, Jepang dan Indonesia. 

Saat ini, Perseroan melalui Perusahaan Anak telah mengoperasikan dua konsesi PKP2B, yaitu melalui PT Lahai Coal (LC) dan MC. LC telah memproduksi batu bara sejak 2015 termasuk jenis green coal. Sedangkan, MC telah memproduksi batu bara HCC serta green coal sejak tahun 2019 dan melakukan shipment pertama pada tahun 2020.

Sementara itu, tiga wilayah PKP2B perusahaan anak (PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal dan PT Juloi Coal) masih memerlukan eksplorasi lanjutan.

Related Articles