Comscore Tracker
NEWS

Neraca Dagang RI ke Rusia dan Ukraina Defisit Akibat Perang

Sebelumnya, perdagangan RI ke dua negara tersebut surplus.

Neraca Dagang RI ke Rusia dan Ukraina Defisit Akibat PerangIlustrasi Konflik rusia-ukraina. Shutterstock/Tomasz Makowski

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Konflik Rusia-Ukraina membuat neraca dagang Indonesia dengan kedua negara tersebut defisit. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyampaikan neraca perdagangan RI dan Rusia pada periode Januari-Maret 2022 mengalami defisit US$204,6 juta berkebali dengan periode sama di 2021 yang surplus US$42,2 juta.

Sedangkan dengan Ukraina, Indonesia mengalami defisit neraca dagang sebesar US$13,5 juta, berbanding terbalik dibandingkan periode yang sama di 2021 yang surplus US$53,6 juta.

"Kami ingin menyimpulkan bahwa konflik ini membuat neraca perdagangan kita defisit, di mana defisit terbesar yaitu dengan Rusia," kata Margo dalam konferensi pers, Senin (18/4).

"Mudah-mudahan ketegangan semakin cepat selesai sehingga kita bisa cepat memperbaiki neraca perdagangan kita dengan kedua negara," jelasnya.

Komoditas ekspor utama

Margo memaparkan, tiga komoditas ekspor utama Indonesia ke Rusia adalah lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, serta mesin dan peralatan listrik.

Sepanjang Januari-Februari 2022, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati RI ke Rusia berturut-turut sebesar US$102,4 juta dan US$102 juta. Namun, pada Maret 2022 nilainya turun menjadi US$58,3 juta.

"Jadi, terlihat sekali komoditas lemak dan minyak hewan/nabati ini akibat konflik jadi mengalami penurunan," ujar Margo.

Demikian pula untuk ekspor karet dan barang dari karet, di mana pada Januari dan Februari 2022 nilainya mencapai US$7,1 juta dan US$7,3 juta. Namun pada Maret 2022 angkanya hanya US$600 ribu.

Hal sama terjadi pada ekspor komoditas mesin dan peralatan listrik, di mana pada Januari-Februari 2022 angkanya US$11,1 juta dan US$10,7 juta. Sedangkan Maret susut menjadi US$2,5 juta.

Sementara itu, komoditas ekspor utama RI dengan Ukraina yaitu lemak dan minyak hewan/nabati, kertas karton, serta alas kaki. "Di bulan Maret ini tidak ada ekspor sama sekali ke Ukraina, yang menunjukkan bahwa konflik ini mengganggu ekspor kita ke Ukraina," tandas Margo.

Related Articles