Comscore Tracker
NEWS

Shell Kembali Naikkan Harga BBM per 1 Juni 2022

Kenaikan harga Rp780-Rp1.800 per liter.

Shell Kembali Naikkan Harga BBM per 1 Juni 2022Logo SPBU Shell. Shutterstock/Willy Barton

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell kembali menyesuaikan harga jual BBM-nya per 1 Juni 2022. Dikutip dari situs resminya, harga bahan bakar umum (BBU) Shell di wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat mengalami kenaikan kecuali produk Diesel Extra.

Harga BBM Shell Super dengan oktan (RON) 92, misalnya, naik Rp870 per liter dari sebelumnya Rp16.630 menjadi Rp17.500 per liter. Kemudian, harga Shell V-Power juga naik Rp1.220 per liter. Kini, V-Power dilepas Rp18.500 per liter dari sebelumnya Rp 17.280 per liter. 

Ada pula Shell V-Power Diesel yang naik Rp780 per liter dari Rp18.680 menjadi Rp19.460 per liter. Lalu, harga Shell V-power Nitro+ naik Rp1.800 per liter dari Rp17.440 menjadi Rp19.420 per liter.

Selain wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat, penyesuaian harga juga di lakukan di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Namun, untuk dua wilayah tersebut, hanya Shell Super, V-Power dan Diesel Extra yang mengalami kenaikan.

Harga Shell Super dan V-Power dibanderol masing-masing Rp17.500 dan Rp18.500 per liter, sama dengan wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Sedangkan harga Diesel Extra mencapai Rp19.040 per liter.

 

Harga BBM Pertamina belum naik

Meski SPBU Shell kembali menaikkan harga jual, PT Pertamina (Persero) belum memberikan sinyal akan menaikkan lagi harga BBM-nya. Menteri BUMN Erick Thohir juga mengungkapkan pemerintah belum memiliki rencana terkait penyesuaian harga BBM jenis Pertalite.

"Pertalite sekarang berada di harga Rp7.650, belum ada rencana pemerintah melakukan (penyesuaian)," kata Erick Thohir pertengahan Mei lalu.

Pemerintah baru mengambil keputusan menaikkan harga Pertamax beberapa waktu lalu setelah harga minyak dunia melambung tinggi. Bahkan setelah dinaikkan pun, harga Pertamax menurutnya masih berada di bawah nilai keekonomian.

"Saya sudah sampaikan tidak mungkin pemerintah dengan kondisi pangan dan energi seperti sekarang, pemerintah mendiamkan, tidak melakukan intervensi, tidak mungkin. Pemerintah pastinya hadir. Tentu mekanisme kehadirannya melalui berbagai cara," jelasnya

Related Topics

Related Articles