Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Emas Dunia Naik, Investor Cermati Peluang Tembus US$4.500

Harga Emas Dunia Naik, Investor Cermati Peluang Tembus US$4.500
ilustrasi koleksi batangan dan koin emas berkilauan yang melambangkan kekayaan dan investasi (pexels.com/Zlaťáky.cz)
  • Harga emas spot naik 0,4 persen ke US$4.356,79 per ounce, bertahan dekat level tertinggi hampir dua bulan; emas berjangka AS juga menguat menjadi US$4.416.
  • Pembelian cadangan emas oleh bank sentral Cina pada Juli 2026, terbesar sejak Oktober 2023, menopang permintaan di tengah kehati-hatian investor menjelang data CPI dan PPI AS.
  • Data inflasi AS akan memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed dan arah emas menuju US$4.500; pasar juga mempertimbangkan risiko geopolitik di Selat Hormuz.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNEHarga emas dunia masih bertahan di area tertinggi dalam hampir dua bulan. Pergerakan logam mulia kini menjadi perhatian investor menjelang rilis sejumlah indikator inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Pada perdagangan Senin, harga emas spot tercatat naik 0,4 persen menjadi US$4.356,79 per ounce. Sebelumnya, pada Jumat, harga emas sempat menyentuh US$4.371,63 per ounce. Level tersebut merupakan posisi tertinggi sejak 17 Juni 2026, setelah data nonfarm payrolls AS menunjukkan pelemahan yang tidak terduga.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS turut menguat 0,4 persen menjadi US$4.416 per ounce. Penguatan tersebut menunjukkan minat beli yang masih terjaga, termasuk dari investor yang khawatir kehilangan momentum kenaikan harga atau fear of missing out (FOMO).

Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn menilai indikator teknikal masih memberikan sinyal positif bagi emas. “Momentum teknikal saat ini cukup kuat untuk emas secara keseluruhan,” kata Haberkorn, mengutip CNBC, Selasa (11/8).

Namun, investor tetap mengambil posisi dengan hati-hati sambil menunggu sejumlah katalis pasar. Selain aktivitas pembelian emas oleh Cina, perhatian tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis pekan ini.

“Perdagangan masih cenderung berhati-hati, dengan adanya pembelian dari Cina, serta laporan CPI dan PPI Juli pekan ini, ditambah kekhawatiran tertinggal jika harga kembali bergerak di atas US$ 4.500 untuk sementara waktu,” ujarnya.

Permintaan dari Cina menjadi salah satu penopang harga emas belakangan ini. Bank sentral Cina dilaporkan kembali meningkatkan cadangan emas pada Juli 2026. Data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan penambahan tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan emas dari bank sentral masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini sekaligus memberikan bantalan bagi harga emas ketika investor masih mencermati prospek suku bunga AS.Kini, fokus pasar bergeser ke data inflasi AS. CPI dijadwalkan dirilis pada Rabu, sementara PPI menyusul pada Kamis.

Konsensus ekonom memperkirakan inflasi konsumen AS pada Juli berada di level 3,4 persen secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Juni yang mencapai 3,5 persen.

Market Analyst American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan data inflasi tersebut akan menjadi salah satu penentu arah emas selanjutnya.

“Data CPI akan menjadi sangat penting. Inflasi mulai sedikit mendingin, dan pasar memperkirakan laporannya tidak akan menunjukkan lonjakan inflasi yang terlalu panas, sehingga emas berpotensi bergerak mendatar hingga menguat dalam jangka pendek,” kata Wyckoff.

  1. Menanti Arah The Fed

    Perkembangan inflasi juga menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Jika tekanan harga terus mereda, ruang bagi bank sentral AS untuk menyesuaikan kebijakan moneternya akan semakin menjadi perhatian investor.

    Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 50 persen untuk kenaikan suku bunga pada September 2026 dan 81 persen pada Desember 2026.

    Perubahan ekspektasi suku bunga biasanya berpengaruh langsung terhadap emas. Kenaikan suku bunga cenderung menekan daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi maupun instrumen berbunga. Setiap sinyal mengenai kebijakan The Fed berpotensi menentukan apakah emas mampu mempertahankan tren penguatannya dan menguji level US$4.500 per ounce.

    Selain faktor moneter, investor masih memasukkan risiko geopolitik dalam perhitungan. Salah satunya perkembangan di Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz.

    Iran menyebut pembicaraan dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz hampir mencapai kesepakatan final. Kendati demikian, Teheran mengatakan masih ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum jalur strategis tersebut dapat kembali dibuka secara penuh.

    Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung beragam. Harga perak spot melonjak 2,3 persen menjadi US$65,03 per ounce. Sebaliknya, platinum turun 0,1 persen menjadi US$1.743,05 per ounce, sedangkan palladium naik 0,2 persen menjadi US$1.380,68 per ounce.

    Dengan kombinasi permintaan bank sentral, prospek suku bunga, data inflasi, dan risiko geopolitik, pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan data ekonomi AS.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More