Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Industri Percetakan Bergeser ke Digital, Packaging Jadi Penopang
AllPrint Indonesia 2026/Dok. Istimewa
  • Industri percetakan Indonesia beralih dari produksi massal konvensional ke layanan digital, personalisasi, packaging, dan label, didorong e-commerce serta kebutuhan UMKM yang lebih fleksibel.
  • Pada 2026, industri percetakan diproyeksikan tumbuh 3,39 persen; packaging dan label hingga 20 persen, sementara textile printing sekitar 15 persen.
  • AllPrint Indonesia 2026 menghadirkan 400 peserta dari 10 negara; 75 persen menampilkan digital printing untuk berbagai aplikasi, dengan investasi mesin mulai Rp50 juta hingga miliaran rupiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Industri percetakan Indonesia mulai bergeser operasionalnya dari model produksi massal konvensional menuju layanan digital, personalisasi, packaging, dan label. Perubahan kebutuhan pasar tersebut ikut mendorong pelaku industri meningkatkan investasi pada teknologi dan mesin produksi.

Pada 2026, industri percetakan Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 3,39 persen dengan pertumbuhan kumulatif di kisaran 11,42 persen. Sektor packaging dan label menjadi salah satu penopang dengan pertumbuhan hingga 20 persen, sementara textile printing tumbuh sekitar 15 persen. Perkembangan e-commerce dan aktivitas UMKM turut meningkatkan kebutuhan terhadap produk cetak yang lebih fleksibel dan sesuai permintaan pasar.

Perubahan tersebut terlihat dalam penyelenggaraan AllPrint Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 7–10 Oktober 2026. Pameran yang telah memasuki tahun ke-27 ini mempertemukan produsen mesin, penyedia teknologi, pemasok bahan baku, hingga pelaku industri percetakan dari berbagai negara.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan teknologi digital printing menjadi salah satu segmen yang paling dinamis dalam industri percetakan. Sekitar 75 persen peserta AllPrint Indonesia 2026 menampilkan teknologi tersebut.

“Pameran ini diselenggarakan untuk ke-27 kalinya dan diikuti oleh 400 peserta dari 10 negara. Teknologi cetak digital menjadi sektor yang paling dinamis dengan perkembangan pesat setiap tahunnya,” ujar Daud, dalam keterangan pers, Rabu (7/10).

Teknologi yang ditampilkan tidak lagi terbatas pada pencetakan di atas kertas. Digital printing telah merambah kebutuhan plastik, branding, packaging, promosi, arsitektur, hingga 3D printing. Perluasan aplikasi tersebut menunjukkan bahwa mesin dan teknologi cetak semakin terhubung dengan kebutuhan industri di luar penerbitan dan percetakan konvensional.

Dari sisi investasi, kebutuhan teknologi juga memiliki rentang yang lebar. Daud mengatakan produk yang ditawarkan mencakup mesin untuk usaha kecil dan menengah hingga peralatan berkapasitas industri besar.

“Nilai investasinya bervariasi, mulai dari Rp50 juta hingga miliaran rupiah, termasuk mesin asal Jerman senilai puluhan miliar rupiah yang turut dipamerkan,” katanya.

Perkembangan digital printing juga menciptakan ruang bagi produksi dalam jumlah lebih kecil dan lebih personal. Model tersebut memungkinkan pelaku usaha merespons perubahan desain, kebutuhan branding, serta permintaan packaging dan label tanpa sepenuhnya bergantung pada produksi dalam volume besar.

Laporam 6Wresearch memperkirakan pasar digital printing Indonesia mencapai US$183 juta pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$241 juta pada 2032, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 4 persen. Segmen tersebut mencakup antara lain commercial printing, buku, serta berbagai kebutuhan packaging seperti label, karton, dan kemasan fleksibel.

Selain mesin, ekosistem yang ditampilkan mencakup kertas, vinyl, tekstil, bahan kaos, serta teknologi sablon. Sektor pendukung seperti signage, textile printing, packaging, dan label juga hadir melalui Indo Sign & Ad, Textile Printing, Print for Pack, serta Pro Label Asia.

Perubahan teknologi tersebut dinilai membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara percetakan dan subsektor kreatif lainnya. Deputi Bidang Kreatif Media Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Cecep Rukendi, mengatakan perkembangan industri tidak hanya berkaitan dengan mesin, tetapi juga hubungan antara teknologi produksi dan ekosistem penerbitan.

Menurutnya ada kebutuhan industri terhadap ruang yang mempertemukan pelaku usaha, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan lainnya. Tahun ini, peserta pameran berasal dari 28 provinsi dan 10 negara.

“Bukan hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga menjadi marketplace dan menjadi ajang kolaborasi di antara para stakeholders industri penerbitan dan percetakan,” ujarnya.

Dengan perubahan permintaan dan teknologi tersebut, industri percetakan kini tidak hanya bertumpu pada penerbitan. Packaging, label, textile printing, branding, dan kebutuhan produksi yang lebih personal menjadi bagian dari sumber pertumbuhan baru, sekaligus mendorong investasi pada mesin dan solusi produksi digital.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article