Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Intervensi Jepang-AS Angkat Nilai Yen, Imbal Hasil US Treasury Meroket
ilustrasi Yen Jepang (pexels.com/Q L)
  • AS dan Jepang mengonfirmasi intervensi valuta asing bersama pertama sejak 2011 untuk menopang yen, meredam volatilitas, dan mencegah dampak global dari pelemahan mata uang Jepang.
  • Yen menguat hingga 1,4 persen ke 155,20 per dolar setelah Tokyo diperkirakan membeli yen hingga US$58,97 miliar, namun penguatan cepat menekan indeks Nikkei.
  • Potensi penjualan US Treasury oleh Jepang untuk mendanai pembelian yen mendorong yield Treasury 10 tahun ke 4,735 persen, sementara BOJ mempertahankan suku bunga sambil mengisyaratkan kenaikan lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Koordinasi langka Jepang dan AS menunjukkan respons bersama terhadap volatilitas yen yang berlebihan, dengan dampak awal berupa penguatan mata uang Jepang ke level tertinggi hampir tiga bulan. Dukungan Washington serta kesiapan untuk terus berpartisipasi memberi ruang bagi Jepang meredakan tekanan nilai tukar yang telah meningkatkan biaya impor dan beban rumah tangga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Amerika Serikat (AS) dan Jepang mengonfirmasi pelaksanaan intervensi bersama yang langka di pasar valuta asing guna menopang nilai tukar yen dan menghentikan kejatuhan mata uang tersebut ke level terendah dalam 40 tahun terakhir.

Langkah ini diambil guna mencegah efek rambatan (spillover) global akibat aksi jual yen, sekaligus menahan gejolak di pasar obligasi pemerintah.

Konfirmasi intervensi gabungan ini mencuat usai Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Washington turut menopang yen sebagai bentuk persahabatan dan dukungan terhadap perekonomian global. Ini menandai intervensi terkoordinasi pertama kedua negara sejak aksi serupa pada 2011 pascagempa bumi di Jepang bagian timur.

"Mereka menghadapi yen yang melemah, dan mereka menginginkan sedikit bantuan. Dan kami selalu ada untuk Jepang," kata Trump merespons pertanyaan wartawan terkait alasan keterlibatan AS, seperti dikutip dari Aljazeera (3/8).

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, turut mengonfirmasi upaya tersebut, Minggu, dan menegaskan kesiapan Washington untuk terus berpartisipasi.

Kementerian Keuangan Jepang juga bersuara dengan menyatakan bahwa intervensi bersama Departemen Keuangan AS bertujuan "menangkal volatilitas yang berlebihan dan pergerakan tidak teratur pada yen Jepang dalam beberapa bulan terakhir," sebagaimana dilansir Aljazeera.

Data proyeksi kondisi pasar uang Bank of Japan (BOJ) mengindikasikan Tokyo mungkin telah menjual hingga US$58,97 miliar (tercermin dari arus keluar dana bersih sebesar 8,2 triliun yen) untuk membeli yen di pasar New York, Kamis lalu.

Aksi tersebut diambil tepat sebelum intervensi bersama dengan AS.

Kejutan ini langsung menekan dolar AS. Yen melonjak tajam, menguat hingga 1,4 persen untuk menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan pada 155,20 per dolar AS, melengkapi lonjakan 3,8 persen selama dua sesi sebelumnya.

Yen juga menguat secara luas terhadap mata uang utama lainnya. Pada awal perdagangan Asia hari Senin, euro naik ke level tertinggi 1,5 bulan pada $1,1559, sementara pound sterling berada di dekat level tertinggi dua minggu pada $1,3476.

Namun, apresiasi yen yang terlalu cepat langsung membebani pasar ekuitas Jepang. Indeks Nikkei anjlok, membalikkan tren positif dari level tertinggi satu minggunya. Sebagai bentuk koordinasi kebijakan yang lebih luas, Korea Selatan juga dilaporkan masuk ke pasar untuk membeli mata uang won, Kamis.

Upaya Jepang menyeimbangkan biaya utang yang membengkak dengan mata uangnya yang melemah parah menciptakan guncangan pada pasar obligasi AS.

Jepang, sebagai pemegang US Treasury asing terbesar di dunia dengan portofolio lebih dari $1,4 triliun, diyakini harus melepas sebagian kepemilikannya demi mendanai aksi beli yen.

Hal tersebut memicu lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury. Pada Jumat, yield tenor 10 tahun naik lebih dari 9 basis poin menjadi 4,735 persen, level tertinggi sejak 2023. Obligasi acuan 30 tahun bahkan mencapai rekor siklus baru pada 5,265 persen, level yang tidak pernah terlihat sejak krisis keuangan 2008.

"Jepang akan menjual US Treasury untuk mendapatkan dolar, yang kemudian dijualnya, guna membeli mata uangnya sendiri dengan harapan sia-sia bahwa ini akan menghentikan kejatuhan Yen," kata Robin Brooks, peneliti senior urusan ekonomi di Brookings Institution, seperti dikutip dari Barron's (31/7).

Brooks menilai praktik BOJ yang terus membeli obligasi pemerintah selama puluhan tahun untuk menstimulasi pertumbuhan justru makin menekan yen, berujung pada intervensi mata uang masa lalu yang merugikan Jepang lebih dari US$125 miliar tanpa hasil maksimal.

"Pada saat sudah ada banyak tekanan di pasar obligasi pemerintah secara global, disfungsi utang Jepang merambat ke pasar global dalam bentuk imbal hasil Treasury yang lebih tinggi," katanya dikutip Barron's. "Ini adalah contoh paling nyata dari disfungsi pemerintah."

Intervensi terbaru Jepang ini, juga dilaporkan oleh Nikkei Business Daily, melibatkan rate check dari Fed New York, yang merupakan sebentuk 'intervensi lunak' saat para diler diminta mengutip nilai tukar mata uangnya.

Di sisi domestik, depresiasi yen telah mengerek harga impor dan memicu inflasi, memukul dompet rumah tangga di tengah guncangan harga energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Tekanan ekonomi ini turut menggerus tingkat kepuasan publik Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.

Pada pertemuan Jumat lalu, BOJ mempertahankan suku bunganya tetapi memberikan sinyal paling eksplisit mengenai potensi kenaikan lanjutan.

Pada Juni lalu, BOJ menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun ke 1 persen, namun lambatnya laju pengetatan ini dituding sebagai pemicu anjloknya yen. Upaya intervensi senilai 11,7 triliun yen pada akhir April dan awal Mei lalu juga terbukti hanya memberikan efek rebound singkat.

Kini, pasar obligasi harus mengantisipasi perombakan susunan dewan BOJ.

Editorial Team

Related Article