Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Krisis Moneter Iran Kian Dalam, Nilai Tukar Rial Anjlok

potret bendera Iran
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)
Intinya sih...
  • Krisis moneter Iran ditandai jatuhnya nilai tukar rial dan inflasi di atas 50 persen.
  • Tekanan sanksi dan ketidakpastian geopolitik mempersempit ruang kebijakan moneter.
  • Krisis ekonomi menjadi pemicu utama demonstrasi nasional sejak akhir 2025.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE Krisis moneter Iran semakin menekan perekonomian nasional setelah nilai tukar rial anjlok tajam dan inflasi melonjak, memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai wilayah sejak akhir Desember 2025.

Pelemahan mata uang yang ekstrem telah menggerus daya beli masyarakat, meningkatkan biaya hidup, dan memperburuk sentimen terhadap pemerintah di tengah tekanan geopolitik yang berlanjut.

Tekanan ekonomi ini tidak berdiri sendiri. Di saat pemerintah menghadapi keterbatasan fiskal akibat sanksi internasional dan isolasi finansial, ketidakstabilan nilai tukar mempercepat lonjakan harga barang pokok. Kondisi tersebut menjadi pemicu awal eskalasi protes yang kemudian berkembang menjadi krisis keamanan dan politik berskala nasional.

Nilai tukar rial runtuh dan inflasi melonjak

Nilai tukar rial Iran mencatat keruntuhan tajam sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pada akhir Desember 2025, mata uang tersebut sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran 1,4 juta rial Iran per dolar AS di pasar terbuka. Pada perdagangan Jumat (9/1/2026), nilai tukar tercatat di 1.000.010 rial Iran per dolar AS, padahal di awal 2026 masih berada di sekitar 42 ribu rial Iran per dolar AS.

Secara year to date, kondisi ini mencerminkan pelemahan sekitar 2.280 persen, memperlihatkan tekanan moneter yang ekstrem. Permintaan terhadap dolar AS dan emas melonjak seiring inflasi yang terus menggerus tabungan rumah tangga dan modal usaha. Banyak harga barang di Iran, baik secara langsung maupun tidak langsung, terkait dengan pergerakan dolar, sehingga depresiasi rial mempercepat inflasi domestik.

Dilansir Tasnim News Agency, ekonom Mohammad Kohandal mengatakan, “Selama inflasi tetap menjadi masalah kronis dalam perekonomian, berharap nilai tukar yang stabil tidaklah realistis.”

Pernyataan ini menggambarkan keterkaitan struktural antara inflasi tinggi dan ketidakstabilan mata uang di Iran.

Data Statistical Center of Iran menunjukkan inflasi point-to-point mencapai 52,6 persen pada akhir Desember, naik 3,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi tahunan rata-rata juga meningkat menjadi 42,2 persen, memperkuat ekspektasi kenaikan harga lanjutan di kalangan masyarakat.

Tekanan sanksi dan kebijakan valuta asing

Krisis moneter Iran juga dipicu faktor eksternal. Sanksi terkait program nuklir membatasi ekspor minyak dan akses Iran ke sistem perbankan internasional, menghambat perolehan serta transfer valuta asing. Kondisi ini mempersempit ruang intervensi moneter pemerintah.

Pada Desember 2025, otoritas Iran mengizinkan importir barang kebutuhan pokok mengakses pasar valuta asing terbuka alih-alih jalur bersubsidi. Kebijakan tersebut dinilai mempercepat tekanan terhadap rial karena meningkatkan permintaan dolar di pasar informal.

Ketidakpastian geopolitik turut memperburuk sentimen. Risiko eskalasi regional, ketegangan Iran–Israel, serta mandeknya diplomasi nuklir meningkatkan kekhawatiran pembatasan valuta asing yang lebih ketat. Kondisi ini mendorong aksi jual rial secara masif.

Dampaknya langsung terasa pada sektor riil. Harga pangan pokok, obat-obatan, dan barang impor melonjak tajam. Pedagang menghadapi kesulitan menetapkan harga dan mengisi kembali stok karena biaya penggantian barang meningkat signifikan.

Protes massal dan eskalasi keamanan

Krisis moneter yang memburuk menjadi pemicu awal demonstrasi besar yang pecah sejak 28 Desember 2025. Kelompok HAM HRANA per Minggu (11/1) mencatat 544 orang tewas dan 10.681 orang ditangkap dalam aksi protes tersebut, meski angka tersebut belum diverifikasi secara independen.

Aksi protes yang semula dipicu tekanan ekonomi kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim. Pemerintah merespons dengan pembatasan akses internet sejak Kamis (8/1) dan pengetatan keamanan, namun demonstrasi dilaporkan terus berlangsung di berbagai provinsi.

Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terhadap demonstran dan memperingatkan Teheran agar tidak meningkatkan kekerasan. Ia bahkan menyatakan kesiapan AS untuk bertindak jika aparat menembaki warga.

Upaya pemerintah Iran redam krisis

Dilansir Fortune International, pemerintah Iran mengumumkan rencana pemberian bantuan tunai sekitar 1 juta toman atau setara 7 dolar AS per bulan kepada sekitar 80 juta penduduk.

Namun, kebijakan ini dinilai belum mampu meredam tekanan ekonomi, terutama di tengah inflasi pangan yang mencapai 64 persen dan penurunan nilai mata uang sekitar 60 persen sejak Juni 2025.

“Aparat keamanan dan penegak hukum menghadapi masalah ekonomi dan harga tinggi yang sama,” ujar seorang demonstran di Teheran, dikutip The New York Times. Pernyataan ini mencerminkan meluasnya dampak krisis moneter hingga ke institusi negara.

FAQ seputar krisis moneter Iran

Apa penyebab utama krisis moneter Iran?

Pelemahan rial, inflasi tinggi, sanksi internasional, dan tekanan geopolitik menjadi faktor utama.

Seberapa parah pelemahan nilai tukar rial?

Rial melemah lebih dari 2.200 persen secara year to date hingga awal 2026.

Bagaimana dampaknya ke masyarakat Iran?

Daya beli turun drastis, harga pangan melonjak, dan protes meluas ke berbagai wilayah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More

Luhut Bantah Punya Saham Toba Pulp: Saya Pernah Minta Ditutup

13 Jan 2026, 10:46 WIBNews