Comscore Tracker
NEWS

Impor Bahan Baku Melejit, Tanda-tanda Industri Kembali Bergairah

Impor Industri Meningkat Pada Agustus 2021

Impor Bahan Baku Melejit, Tanda-tanda Industri Kembali BergairahShutterstock/Afanasiev Andrii

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Setelah mengalami kontraksi pada Juli 2021 akibat pengetatan pembatasan sosial, industri manufaktur atau pengolahan Indonesia kembali mencetak kinerja positif sepanjang Agustus. Industri manufaktur saat ini mulai kembali ke tahap ekspansif terindikasi dari kenaikan nilai impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia sepanjang Agustus mencapai US$16,88 miliar, atau tumbuh 10,35 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), impor pada bulan lalu juga meningkat signifikan hingga 55,26 persen.

Pertumbuhan positif nilai impor pada Agustus itu terjadi setelah terjadi koreksi pada Juli. Berdasarkan data BPS, nilai impor Juli terkontraksi 12,22 persen menjadi US$15,11 miliar.

Jika dibedah lebih dalam, pada bulan lalu hampir semua komponen impor bertumbuh. Menurut BPS, impor barang modal tumbuh signifikan mencapai 16,44 persen secara bulanan. Setelahnya, impor barang konsumsi juga meningkat 16,34 persen dan bahan baku 8,39 persen.

“Impor Agustus ini menggambarkan terjadinya kebutuhan industri yang semakin bagus. Impor bahan baku meningkat menandakan permintaan sektor industri dan juga barang modal menggambarkan kebutuhan peningkatan kapasitas produksi,” kata Kepala BPS Margo Yuwono, dalam konferensi pers secara daring, Rabu (15/9).

Sebagai catatan, naik turunnya impor bahan baku maupun barang modal selama ini menjadi salah satu indikator yang menunjukkan tren pembuatan barang jadi pada industri manufaktur. Jika nilai kedua komponen impor tersebut naik, diperkirakan kinerja industri pengolahan sedang meningkat.

Jika dilihat dalam jangka panjang, nilai impor bahan baku/penolong pada Januari-Agustus mencapai US$92,88 miliar, atau meningkat 36,84 persen secara tahunan. Kemudian, impor barang konsumsi juga naik 29,79 persen dan barang modal 19,60 persen.

Aprisindo: pasar ekspor positif, permintaan dalam negeri mulai pulih

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakrie, industri alas kaki saat ini mencetak kinerja positif. Dia menyebutkan, kondisi itu terjadi lantaran pasar ekspor alas kaki sedang tumbuh serta permintaan dalam negeri kembali bergeliat sejalan dengan pelonggaran pembatasan kegiatan.

Firman menyebut, untuk pasar ekspor, misalnya, dengan permintaannya yang tumbuh menyebabkan pelaku usaha menambah belanja modal demi perluasan kapasitas produksi. Sedangkan untuk kenaikan permintaan dalam negeri, lanjutnya, mendorong peningkatan impor barang baku.

“Jadi ekspor kita tumbuh dan juga pada Agustus kemarin pasar domestik kita sudah mulai bergerak,” kata Firman kepada Fortune Indonesia, Kamis (16/9).

Firman secara khusus menambahkan, perbaikan permintaan dalam negeri juga didorong oleh pelaksanaan kembali pembelajaran tatap muka di sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, dengan kembali digelarnya kegiatan sekolah secara luring, mendorong peningkatan belanja keperluan sekolah seperti sepatu.

Menurut Firman, pelaku usaha alas kaki optimistis permintaan baik dari pasar ekspor maupun domestik akan tumbuh ke depannya. Dia menyebutkan, khusus untuk pasar domestik, pemulihan permintaannya tentu akan sangat bergantung pada faktor pembatasan sosial. “Kami optimistis kalau tidak ada pengetatan lagi akhir tahun hingga tahun baru 2022 pasar akan bergerak,” katanya.

Impor berpotensi tumbuh lebih tinggi

Ekonom Center of Reforms on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, berpendapat kenaikan impor sepanjang Agustus mengindikasikan dunia usaha, khususnya industri manufaktur, kembali menggeliat. Menurutnya, ekspansi ini terjadi terutama akibat pelonggaran pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah.

Namun demikian, menurut Yusuf, ekspansi industri manufaktur tersebut masih dalam level terbatas. Pendapat Yusuf ini didasarkan atas sejumlah indikator seperti angka Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia yang belum meningkat signifikan.

Lembaga IHS Markit sebelumnya mencatat, angka PMI manufaktur Indonesia pada Agustus mencapai 43,7, naik dari bulan sebelumnya 40,1. Meski meningkat, angka PMI manufaktur itu belum mencapai level ekspansif atau skor 50.

“Industri sudah ekspansif tapi masih terbatas,” kata Yusuf kepada Fortune Indonesia. “Meski sudah ada pelonggaran pembatasan, tetap perlu waktu bagi daya beli masyarakat untuk naik kembali.”

Yusuf memperkirakan kinerja impor Indonesia yang menunjukkan aktivitas industri akan terus ekspansif sejalan dengan pelonggaran pembatasan. “Dari tren impor ini ada optimisme bahwa satu sampai dua bulan ke depan ekonomi akan kembali menggeliat setidaknya seperti sebelum masa pengetatan pembatasan,” katanya.

Related Articles