Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menperin Bidik Kontribusi Manufaktur Terhadap PDB Naik jadi 25%
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji memberikan sambutan pada kegiatan Peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (6/10). (Dok. Kemenperin)
  • Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menargetkan kontribusi manufaktur terhadap PDB naik dari sekitar 19 persen menjadi lebih dari 20 persen, dengan sasaran jangka panjang 21-25 persen.

  • Pemerintah ingin manufaktur tumbuh melampaui pertumbuhan ekonomi agar memperkuat struktur ekonomi, menciptakan nilai tambah sumber daya, dan memperluas kesempatan kerja.

  • Kemenperin mendorong ekosistem usaha melalui regulasi efektif, layanan cepat, koordinasi pemangku kepentingan, serta standardisasi SNI yang selektif agar kualitas dan daya saing industri meningkat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji menargetkan kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia kembali meningkat hingga 25 persen. Target tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menjadikan sektor industri sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB berada di kisaran 19 persen. Sarmuji menargetkan angka tersebut dapat kembali menembus lebih dari 20 persen, dengan sasaran jangka panjang berada di kisaran 21-25 persen.

"Kami targetkan agar pertumbuhan industri lebih tinggi lagi, melebihi pertumbuhan ekonomi. Kenapa? Karena industri inilah sebenarnya yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi," kata Sarmuji dalam keterangannya, Kamis (8/10).

Menurutnya, peningkatan kontribusi manufaktur penting untuk memperkuat struktur perekonomian nasional. Selain menciptakan nilai tambah dari pengolahan sumber daya, pertumbuhan industri juga diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja.

"Kami ingin industri kita bangkit kembali. Jangan sampai industri kita layu sebelum mencapai puncaknya," ujarnya.

Sarmuji menjelaskan, penurunan kontribusi industri pada sejumlah negara maju terjadi setelah sektor manufaktur mereka mencapai tingkat kematangan. Setelah itu, struktur ekonomi secara bertahap bergeser ke sektor jasa.

Karena itu, dia menilai Indonesia perlu memastikan industri manufaktur mencapai tahap perkembangan yang optimal sebelum kontribusinya terhadap perekonomian menurun secara alamiah.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu membangun ekosistem usaha yang mampu mendorong industri tumbuh lebih cepat. Menurutnya, pelaku industri pada dasarnya memiliki kemampuan untuk berproduksi, melakukan inovasi, hingga memperluas pasar.

Namun, kemampuan tersebut perlu didukung kebijakan pemerintah terutama dalam hal kepastian dan kemudahan dalam menjalankan usaha.

"Tugas utama kita sebenarnya menciptakan ekosistem yang baik bagi tumbuhnya industri. Kegiatan usaha dan produksi dijalankan oleh pelaku industri sendiri, tetapi ekosistem industri tidak bisa diciptakan oleh pelaku industri sendiri. Itu harus menjadi tanggung jawab pemerintah," ujarnya.

Kementerian Perindustrian terus mendorong penyelarasan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kebutuhan sektor manufaktur. Upaya tersebut mencakup peningkatan efektivitas regulasi, percepatan pelayanan, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Salah satu fokus yang turut didorong adalah penguatan standardisasi produk melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk meningkatkan kualitas produk nasional, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri.

Meski demikian, Sarmuji mengingatkan penerapan standardisasi harus dilakukan secara selektif dan mempertimbangkan karakteristik masing-masing subsektor industri.

"Standardisasi penting supaya industri kita semakin berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat. Konsumen juga harus dilindungi. Tetapi kita juga harus teliti dan melihat kembali penerapannya agar jangan sampai justru menjadi hambatan bagi industri kita sendiri," pungkasnya.

 

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article