Jakarta, FORTUNE — Penurunan produksi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia dinilai menjadi tantangan yang sulit dihindari di tengah makin tuanya lapangan migas dan belum ditemukannya cadangan raksasa baru (giant field). Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengoptimalkan produksi dari lapangan lama sembari menggenjot kegiatan eksplorasi.
Ketua Komisi XII DPR RI, Melchias Markus Mekeng, mengatakan tren penurunan produksi minyak Indonesia telah berlangsung dalam jangka panjang.
“Saya saat 2010 pas ketua Banggar, lifting masih 870 Bpod, sekarang sudah 600 Bpod, jadi 200.000 turun terus,” kata Mekeng dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara virtual, Rabu (26/8).
Menurut dia, pemerintah perlu menjelaskan langkah yang akan dilakukan untuk menghadapi tren penurunan tersebut.
“Itu saja saya minta, tolong disampaikan apa kira-kira, karena ini tanggung jawab kita kepada anak-cucu kita yang akan meneruskan bangsa ini,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengatakan salah satu persoalan utama yang dihadapi industri migas nasional adalah natural decline atau penurunan produksi secara alamiah.
Menurut Sugeng, kondisi tersebut kian sulit diatasi karena Indonesia belum menemukan lapangan migas raksasa baru. Di sisi lain, kegiatan eksplorasi membutuhkan biaya besar dan memiliki tingkat risiko tinggi.
Ia menjelaskan, tingginya risiko eksplorasi membuat kegiatan pengeboran tidak selalu berujung pada penemuan cadangan ekonomis. Berdasarkan diskusi dengan sejumlah narasumber, tingkat keberhasilan pengeboran juga relatif rendah.
“Kita tahu margin error itu adalah 70 persen, ngebor 10 ketemu 3 itu sudah hebat,” ujarnya.
Karena itu, Sugeng menilai diperlukan kepastian hukum yang lebih kuat dalam kegiatan usaha hulu migas. Salah satunya melalui penguatan kepastian kontrak agar pelaku usaha memiliki keberanian lebih besar melakukan investasi eksplorasi.
“Inilah undang-undang migas perlunya nanti agar subsidy contract itu, kesucian kontrak menjadi lebih tinggi, sehingga tidak bisa dipidanakan dan sebagainya,” katanya.
