Jakarta, FORTUNE - Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melaporkan realisasi investasi Rp32 triliun pada semester I-2026 di KEK, dengan kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp24 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp8 triliun.
Capaian tersebut turut menciptakan 34.162 lapangan kerja baru, memperkuat posisi KEK sebagai salah satu motor penggerak investasi dan transformasi ekonomi nasional.
Berdasarkan data sementara hingga 28 Juli 2026, realisasi investasi kumulatif di seluruh KEK telah mencapai Rp368 triliun, yang berasal dari 444 badan usaha dan pelaku usaha. Hingga saat ini, kawasan tersebut telah menyerap 283.234 tenaga kerja.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan capaian tersebut mencerminkan arah baru pengembangan KEK yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan investasi, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi melalui sektor-sektor strategis.
"Capaian strategis periode ini mencakup penguatan hilirisasi industri, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga penyiapan ekosistem energi hijau yang berkelanjutan," kata Rizal dalam keterangannya, Jumat (31/7).
Sejumlah proyek investasi mulai terealisasi di berbagai KEK.
Pada sektor hilirisasi, KEK Gresik memperoleh komitmen investasi US$600 juta dari PT GEABH Joint Technology untuk membangun pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia dengan kapasitas 120.000 ton per tahun.
Sementara itu, PT Evyap Sabun Indonesia telah merealisasikan investasi US$130 juta di KEK Sei Mangkei untuk pengembangan industri hilirisasi kelapa sawit.
Pada sektor manufaktur, KEK Kendal memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu dengan nilai investasi Rp1,12 triliun yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja. Lalu, KEK Industropolis Batang memperkuat pengembangan energi hijau melalui penandatanganan dua nota kesepahaman dengan investor asal Hungaria.
Ke depan, pemerintah akan mengubah pendekatan evaluasi kinerja KEK agar tidak semata-mata berfokus pada besaran investasi yang masuk, melainkan juga dampak ekonomi yang dihasilkan.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menilai kepastian regulasi dan penyelesaian hambatan investasi menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan investor.
"Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui insentif, tetapi juga melalui kepastian regulasi, penyelesaian hambatan secara cepat, dan komunikasi yang konsisten antara pemerintah dengan dunia usaha," katanya.
Susiwijono menambahkan, pengembangan KEK selanjutnya akan diarahkan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi dan industri bernilai tambah. Salah satunya melalui pengembangan KEK Galang Batang yang mengintegrasikan produksi 12 juta ton bauksit, 4 juta ton smelter grade alumina (SGA), hingga 2 juta ton aluminium ingot per tahun.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat pengembangan ekonomi digital melalui pembangunan pangkalan data, ekosistem kecerdasan buatan (AI), serta konektivitas internasional, termasuk pengoperasian kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable sepanjang 50 kilometer dengan kapasitas 1,6 petabit per detik.
Di luar sektor industri, KEK juga terus didorong menjadi pusat pertumbuhan baru pada bidang pariwisata, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Beberapa inisiatif yang tengah dijalankan adalah peningkatan kunjungan wisata di KEK pariwisata, kolaborasi KEK Singhasari dengan King's College London, serta program pengembangan talenta industri melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan yang didukung anggaran Rp6,26 triliun untuk pelatihan vokasi dan peningkatan kesiapan tenaga kerja.
