Comscore Tracker
NEWS

Kelangkaan Chip Hambat Produksi Mobil Global Hingga 2022

Produksi Volkswagen pada 2022 akan lebih sedikit dari 2021.

Kelangkaan Chip Hambat Produksi Mobil Global Hingga 2022Shuttestock/ josefkubes

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Setelah mengurangi perkiraan pengiriman pekan lalu, produsen mobil Volkswagen (VOWG) dikabarkan akan memproduksi mobil lebih sedikit pada 2022 dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh adanya kelangkaan pasokan semikonduktor yang berlangsung hingga saat ini.

Volkswagen bahkan memperkiralkan, masalah kekurangan pasokan chip akan terus terjadi setidaknya hingga awal 2023. Demikian pernyataannya dalam laporan Manager Magazin Jerman sebagaimana yang dikutip dari Reuters, Senin (20/12).

“Dalam skenario terburuk, pengiriman (mobil) bisa turun menjadi 8 juta pada 2022. Bahkan, bila kondisinya relatif baik pun pengiriman tetap berada di bawah tahun ini,” kata sumber anonim perusahaan yang memproyeksi mampu mengirim 9 juta unit pada 2021—lebih rendah 0,3 juta dari perkiraan awal.

Juru Bicara Volkswagen enggan mengomentari kabar itu. Perusahaan justru meramalkan kondisi pasokan pada 2022. Namun perusahaan tak menampik, kondisinya masih tak stabil pada paruh pertama 2022.

Pandangan Pelaku Industri Lain

Produsen mobil lain, seperti BMW dan Daimler memperkirakan masalah kelangkaan chip masih terus berlanjut hingga 2022. BMW sendiri mengonfirmasi pandangan itu kepada Reuters akhir pekan lalu.

“Kami tak berpikir krisis (kelangkaan pasokan) akan mereda hingga paruh kedua 2022,” begitu kata perwakilan perusahaan.

Berlanjut hingga 2022

Selama krisis pasokan berlangsung, para pelaku bisnis otomotif terus memutar otak dengan kreatif. Baik membeli chip secara langsung dari produsen, mengonfigurasi ulang mobil, hingga memproduksinya dengan beberapa bagian yang tidak ada.

Apalagi, bila ternyata kondisi itu masih akan berlanjut dalam jangka panjang—seperti yang BMW ramalkan. Porsche, anak usaha Volkswagen, menyoroti kebutuhan produsen untuk mengambil alih produksi secara mandiri.

“Siapapun yang berpikir krisis chip akan berakhir tahun depan, itu keliru,” ujar CEO Oliver Blume kepada media massa Jerman, Boersen-Zeitung.

Related Articles