Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tingkat Pengangguran Terbuka 4,65 Persen di 2026, Kemenko: Terendah Sejak 1994
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto. Dok Humas Ekon
  • BPS mencatat TPT nasional 4,65 persen pada 2026, sementara basis angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang.

  • Haryo Limanseto mengaitkan capaian tersebut dengan program sektor riil dan investasi yang memfasilitasi kebutuhan pasar kerja.

  • Pemerintah memantau dinamika ketenagakerjaan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat dan efektivitas kebijakan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1994

TPT pada 2026 disebut mendekati level stabilitas ketenagakerjaan sejak 1994.

2005

Indikator TPT mengalami lonjakan signifikan hingga 11,24 persen. Kondisi ini dikaitkan dengan lesunya penyerapan tenaga kerja dan tekanan ekonomi domestik pasca krisis moneter.

2020

Gejolak pandemi COVID-19 membuat TPT berada pada 7,07 persen.

2026

BPS mencatat TPT nasional sebesar 4,65 persen. Haryo Limanseto menyebut tren penurunan tersebut menunjukkan efektivitas penanganan ekonomi dan pemulihan daya saing industri nasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tingkat pengangguran terbuka nasional tercatat 4,65 persen pada 2026, sedangkan rasio pengangguran menyentuh 4,36 persen.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik dan Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan informasi tersebut.
  • Where?
    Indonesia, dengan pengukuran yang mencakup angkatan kerja nasional.
  • When?
    Pada 2026; pernyataan Haryo disampaikan Selasa (27/10).
  • Why?
    Haryo mengaitkan capaian tersebut dengan berbagai program dorongan sektor riil dan investasi dalam memfasilitasi kebutuhan pasar kerja.
  • How?
    TPT diukur berdasarkan persentase jumlah pencari kerja terhadap total angkatan kerja nasional menggunakan metodologi standar ILO dan BPS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tingkat pengangguran di Indonesia turun menjadi 4,65 persen pada 2026. BPS mencatat angka ini, lalu Haryo Limanseto menjelaskan bahwa program sektor riil dan investasi membantu menyediakan pekerjaan. Jumlah orang yang bekerja dan mencari kerja juga besar. Pemerintah sekarang terus melihat keadaan pekerjaan untuk menilai kesejahteraan masyarakat dan kebijakan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penurunan TPT hingga 4,65 persen menunjukkan adanya penciptaan dan penyerapan lapangan kerja baru ketika basis angkatan kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang. Capaian ini juga mencerminkan peran program sektor riil dan investasi dalam memfasilitasi kebutuhan pasar kerja, sementara pemerintah tetap memantau dinamika ketenagakerjaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional berhasil ditekan menjadi 4,65 persen pada 2026.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyoroti bahwa angka ini menandai capaian terendah pengangguran dan mendekati level stabilitas ketenagakerjaan sejak 1994.

“Capaian TPT 4,65 persen ini mencerminkan keberhasilan berbagai program dorongan sektor riil dan investasi dalam memfasilitasi kebutuhan pasar kerja,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangannya, Selasa (27/10).

Secara metodologi standar internasional (International Labour Organization/ILO) dan BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) diukur dari persentase jumlah pencari kerja terhadap total angkatan kerja nasional.

Sementara itu, rasio pengangguran menyentuh 4,36 persen. Sementar itu, basis angkatan kerja Indonesia tahun 2026 mencapai 155,41 juta orang, atau dua kali lipat dibanding basis angkatan kerja di periode 1990 yang berada dikisaran 83,32 juta orang.

"Mampu menekan TPT hingga mendekati level terendah di tengah basis angkatan kerja yang melonjak masif menegaskan pesatnya penciptaan dan penyerapan lapangan kerja baru di berbagai sektor ekonomi," tulis Haryo.

Secara historis, Haryo menyoroti bahwa indikator TPT sempat mengalami lonjakan signifikan pada periode 2005 yang menyentuh 11,24 persen, akibat lesunya penyerapan tenaga kerja dan tekanan ekonomi domestik pasca krisis moneter yang belum menunjukkan perbaikannya. Sementara itu,gejolak pandemi COVID-19 pada 2020 sebesar 7,07 persen.

"Tren penurunan yang konsisten hingga mencapai 4,65 persen di tahun 2026 menunjukkan efektivitas penanganan ekonomi dan pemulihan daya saing industri nasional," kata Haryo.

Sementara itu, Haryo mengatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika ketenagakerjaan sebagai salah satu indikator utama kesejahteraan masyarakat dan efektivitas kebijakan ekonomi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article