Bahlil Bertolak ke India dan Cina, Kejar Kontrak BBM Jangka Panjang

- Bahlil Lahadalia mengunjungi India dan Cina untuk menjajaki kontrak pasokan BBM jangka panjang demi mengamankan kebutuhan energi domestik dan mendiversifikasi sumber impor.
- Pemerintah belum mengungkap calon perusahaan pemasok, volume, nilai kontrak, maupun kepastian pasokan bensin RON 90 dari India dan Cina.
- Langkah ini berlangsung setelah Indonesia memangkas ekspor gas pipa ke Singapura 31 BBTUD akibat shutdown fasilitas produksi dan meningkatnya konsumsi domestik.
Jakarta, FORTUNE — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bertolak ke India dan Cina guna menjajaki kontrak pasokan bahan bakar minyak (BBM). Upaya diversifikasi sumber energi ini berlangsung usai pemangkasan ekspor gas bumi menuju Singapura.
Bahlil menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan memperoleh kepastian pasokan dari negara alternatif. Pemerintah berfokus pada pengamanan kebutuhan energi domestik melalui skema kontrak berdurasi panjang ketimbang pembelian spot.
“Indonesia juga tahu bahwa kita mengimpor BBM RON 90 yang tadi disampaikan dari negara tetangga,” demikian Bahlil dalam konferensi pers secara virtual, Senin (26/10). “Saya diperintahkan untuk mencari kontrak jangka panjang.”
Bahlil belum mendetailkan identitas perusahaan pemasok yang menjadi target pertemuan di India dan Cina, termasuk estimasi volume pasokan maupun nilai kontrak. Otoritas ESDM juga tidak menyebutkan secara spesifik apakah kedua negara tersebut akan menyuplai bensin RON 90 secara langsung.
Diversifikasi pemasok BBM ini beriringan dengan dinamika perdagangan energi antara Indonesia dan Singapura. Sebelumnya, Indonesia mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura sebesar 31 billion British thermal units per day (BBTUD), setara 8 persen dari total pasokan 409,55 BBTUD. Pemotongan volume tersebut dipicu oleh pemeliharaan fasilitas produksi (shutdown) serta eskalasi konsumsi dalam negeri.
Bahlil memastikan penyesuaian volume pasokan tersebut tidak menyalahi kesepakatan karena masih memenuhi batas minimum kontrak.
Di sisi lain, Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura menyatakan akan berkomunikasi dengan pemasok Indonesia. Otoritas setempat mengonfirmasi ketersediaan gas dalam negeri mereka mencukupi, dengan dukungan opsi substitusi dari pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Singapura merupakan negara asal impor migas urutan pertama bagi Indonesia. Akumulasi impor migas pada semester I-2026 mencapai US$22 miliar, mencatatkan pertumbuhan 38,71 persen secara tahunan.
Singapura mendominasi pangsa impor sebesar 28,36 persen, diikuti Malaysia sebesar 19,72 persen dan Amerika Serikat sebesar 8,55 persen.





















