Danantara Bidik Tender 16 Proyek Waste to Energy hingga Akhir 2026

- Danantara menargetkan 15–16 proyek pengolahan sampah menjadi energi memasuki tender hingga akhir 2026, dengan fokus memperbaiki tata kelola sampah perkotaan dan mendukung transisi energi.
- Proyek WtE Bali telah mencapai sekitar 20% dan ditargetkan selesai akhir 2027 atau awal 2028; proyek Bogor berjalan, sementara tender Jakarta dan Tangerang segera diumumkan.
- Danantara membuka keterlibatan swasta untuk pendanaan proyek, sekaligus memperluas investasi ke energi, penerbangan, dan bus listrik dengan manajemen risiko serta tata kelola berlapis.
Jakarta, FORTUNE – Danantara Indonesia mempercepat pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WtE) dengan menargetkan 15–16 proyek masuk tahap tender hingga akhir 2026. Sejumlah proyek tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola sampah perkotaan sekaligus mendukung transisi energi nasional.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, mengatakan keterlibatan investor swasta menjadi salah satu kunci untuk mempercepat realisasi proyek dan memperluas sumber pendanaan.
"Yang ingin kami lakukan adalah menarik keterlibatan sektor swasta. Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk mengembangkan bisnis Indonesia," ujar Pandu dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10).
Dari sisi pembangunan, proyek WtE di Bali telah mencapai progres sekitar 20%. Danantara menargetkan fasilitas tersebut rampung pada akhir 2027 atau awal 2028. Sementara itu, pembangunan proyek serupa di Bogor juga terus berjalan.
Danantara turut menyiapkan delapan proyek tambahan untuk memasuki tahap kolaborasi pada kuartal I-2027. Dalam waktu dekat, lembaga tersebut juga berencana mengumumkan tender proyek WtE di Jakarta dan Tangerang, yakni dalam dua pekan setelah forum berlangsung.
Menurut Pandu, pengembangan fasilitas WtE tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan energi, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar lokasi.
"Ini harus menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat. Kami memosisikan fasilitas ini sebagai tempat yang juga dapat menjadi ruang berkumpul bagi komunitas lokal," ujarnya.
Di luar pengelolaan sampah, Danantara turut memperluas investasi ke sektor energi, penerbangan, dan kendaraan listrik. Di bidang energi, Danantara berinvestasi bersama mitra lokal di perusahaan HighPeak Energy, dengan target meningkatkan kapasitas produksi dari sekitar 50.000 barel menjadi 100.000 barel.
Pada sektor penerbangan, Danantara menjalin kerja sama dengan SMBC Aviation Capital untuk mengembangkan bisnis pembiayaan dan penyewaan pesawat. Sementara di industri kendaraan listrik, Danantara mendorong pengembangan bus listrik bersama produsen dalam negeri guna memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Pandu menegaskan, setiap investasi Danantara mempertimbangkan potensi keuntungan komersial sekaligus dampak strategisnya. Untuk menjaga keberlanjutan investasi, Danantara menerapkan manajemen risiko, tata kelola berlapis, dan disiplin keuangan, sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan modal swasta.






















