Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Utang Luar Negeri RI Naik 1,9% Tembus Rp7.785 T, BI Klaim Masih Stabil
ilustrasi piutang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Bank Indonesia melaporkan utang luar negeri Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar, naik 1,9% dibanding tahun sebelumnya, dengan porsi pemerintah sebesar US$216,4 miliar.
  • Pemerintah memanfaatkan ULN untuk pembiayaan sektor produktif seperti kesehatan, pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan, dengan mayoritas berbentuk utang jangka panjang.
  • Rasio ULN terhadap PDB tercatat 29,6%, sementara ULN swasta turun 0,7% menjadi US$193,2 miliar dan tetap didominasi oleh sektor industri pengolahan serta jasa keuangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia mengumumkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar atau sekitar Rp7.785 triliun dengan asumsi kurs Rp17.699 per dolar AS tumbuh 1,9 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1 persen (yoy).

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang berlanjut.

Bank sentral juga mencatat, posisi ULN sektor pemerintah pada April 2026 sebesar US$216,4 miliar, naik 3,7 persen secara tahunan. Namun, angla ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 3,8 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyebut, salah satu faktor penguatan secara bulanan yakni karena adanya aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN).

"Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri yang tumbuh melambat," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/6).

Ramdan juga menjelaskan bahwa ULN ini adalah salah satu komponen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Maka dari pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk mendukung sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22 persen dari total ULN pemerintah serta Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,5 persen.

Utang luar negeri tersebut juga dimanfaatkan pada sektor Jasa Pendidikan sebanyak 16,2 persen, konstruksi mencakup 11,5 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen. Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.

BI mengklaim struktur utang ini masih sehat. Sebab, rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,6 persen pada April 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan porsi 84,5 persen dari total ULN.

"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN dan mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Di sisi lain, ULN swasta tercatat penurunan 0,7 persen secara tahunan menjadi US$193,2 miliar, lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1,4 persen (YoY). Itang ini didominasi oleh peminjam lembaga keuangan.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 79,6 persen dari total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8 persen terhadap total ULN swasta.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article