Jakarta, FORTUNE - Pemerintah mencermati potensi besar dari belanja masyarakat Indonesia saat bepergian ke luar negeri. Sepanjang Semester I 2026, terdapat sekitar 4,46 kita perjalanan dengan pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri mencapai sekitar US$6,7 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan besarnya pengeluaran tersebut menunjukkan peluang yang dapat dioptimalkan untuk mendorong wisata belanja di dalam negeri.
“Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (27/8).
Berdasarkan data Bank Indonesia, terdapat sekitar 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri sepanjang Januari-Juni 2026.
Di saat yang sama, aktivitas pariwisata di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Pada Januari-Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta kunjungan, meningkat 5,71 persen secara tahunan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan atau tumbuh 2,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Upaya mendorong konsumsi domestik juga didukung oleh masih kuatnya kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian. Pada Triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan dan menyumbang 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dari sisi keyakinan konsumen, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8 atau masih berada di atas ambang optimistis 100.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan transformasi perdagangan perlu dilakukan dengan melihat perubahan pola konsumsi sekaligus perkembangan ekosistem usaha secara menyeluruh.
“Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi,” ujar Haryo.
Menurutnya, ekosistem perdagangan yang semakin terintegrasi akan mendorong potensi wisata belanja dan konsumsi domestik memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Digitalisasi pembayaran menjadi salah satu penopang ekosistem tersebut. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant. Sebanyak 96,68 persen merchant QRIS merupakan pelaku UMKM.
