Jakarta, FORTUNE – Data Streaming Report 2026 dari Confluent menunjukkan hampir tiga perempat atau 72 persen pemimpin IT global mengalami tiga tantangan saat memperluas inisiatif AI pada bisnis masing-masing.
Kelompok responden pemimpin IT ini tersebar di 14 negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Singapura, Spanyol, Uni Emirat Arab, Inggris Raya, Arab Saudi, dan Thailand.
Laporan yang melakukan survei terhadap 4.625 pemimpin IT global ini juga menjabarkan berbagai tantangan industri terkait AI berasal dari infrastruktur yang tidak memadai untuk pemrosesan data secara real-time (72 persen), ketidakpastian seputar asal-usul data, ketepatan waktu, dan kualitas data (66 persen), serta kepemilikan data yang terfragmentasi (65 persen).
“Sistem AI bergantung pada informasi yang terkini, akurat, dan kontekstual, tapi masih terlalu banyak sistem yang dibangun berdasarkan data yang terfragmentasi, proses batch dan infrastruktur yang tidak dirancang untuk kecerdasan berkelanjutan,” kata Chief Product Officer Confluent, Shaun Clowes, melalui keterangan resmi yang dikutip Rabu (29/7).
Sementara itu, secara spesifik kondisi ini juga lebih menonjol bagi pelaku bisnis di Indonesia. Terlepas dari hambatan-hambatan ini, para pemimpin IT Indonesia menunjukkan keyakinan terkuat terhadap data streaming sebagai solusi, dibandingkan negara lain yang disurvei.
Area Vice President Asia Confluent, Rully Moulany, menyatakan sekitar 99 persen pemimpin IT di Indonesia yang termasuk dalam survei memperkirakan data streaming akan meningkatkan dampak investasi AI mereka.
Para responden itu meyakini teknologi platform data streaming dapat mempercepat adopsi AI perusahaan.
Data streaming juga telah menggeser AI sebagai prioritas strategis di Indonesia, dengan 98 persen pemimpin TI menempatkannya di atas solusi AI/ML.
“Organisasi-organisasi di Indonesia tidak kekurangan ambisi dalam hal AI, namun penelitian kami menunjukkan bahwa mereka terhambat oleh infrastruktur data yang tidak pernah dirancang untuk sistem real-time dan otonom,” kata Rully.
Dengan demikian, saat berbagai organisasi dunia lebih menerapkan inisiatif AI ke tahap produksi, fokus pemimpin IT mulai bergeser dari model dasar ke infrastruktur lanjutan yang diperlukan untuk menyediakan data yang tepat pada waktu yang tepat.
