Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Adopsi AI Kian Masif, Fondasi Data Jadi Tantangan Bisnis
Dok. PT Multipolar Technology Tbk
  • Adopsi AI di perusahaan Indonesia meningkat, tetapi manfaat finansial belum merata: 22% CEO melaporkan kenaikan pendapatan, 28% penurunan biaya, dan hanya 10% memperoleh keduanya.
  • Kesiapan data menjadi hambatan utama, karena hanya 24% CEO memiliki akses data komprehensif. Data yang tersebar, kualitasnya berbeda, serta isu akurasi dan bias menghambat perluasan AI.
  • Modernisasi bertahap memungkinkan sistem legacy tetap dipakai sambil membangun fondasi data fleksibel. Penguatan data, tata kelola, dan kepercayaan dinilai penting agar AI menciptakan nilai bisnis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Perusahaan di Indonesia kian masif memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk bisnis. Namun, adopsi teknologi tersebut belum otomatis berujung pada nilai finansial. Salah satu persoalan yang muncul berada di lapisan yang lebih mendasar: kesiapan data.

Survei CEO PwC Indonesia 2026 menunjukkan, 22 persen CEO di Indonesia mengatakan AI telah meningkatkan pendapatan perusahaan dalam 12 bulan terakhir, sementara 28 persen melihat adanya penurunan biaya. Hanya 10 persen yang merasakan kedua manfaat tersebut sekaligus. PwC mencatat, salah satu kendala yang masih dihadapi perusahaan adalah fondasi praktis, termasuk akses data yang memadai. Hanya 24 persen CEO Indonesia dalam survei tersebut yang menyatakan memiliki akses data yang komprehensif.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan AI tidak berhenti pada pemilihan model atau aplikasi. Data yang tersebar di berbagai sistem, tidak terhubung, atau memiliki kualitas yang berbeda dapat menyulitkan perusahaan ketika ingin menggunakannya untuk analisis, pengambilan keputusan maupun pengembangan aplikasi berbasis AI.

Riset IBM Institute for Business Value juga menunjukkan tantangan serupa. Hanya 29 persen pemimpin teknologi yang sangat yakin bahwa data perusahaan mereka telah memenuhi standar kualitas, aksesibilitas, dan keamanan yang diperlukan untuk memperluas penggunaan generative AI. IBM juga mencatat bahwa masalah akurasi dan bias data menjadi salah satu hambatan utama dalam meningkatkan skala penggunaan AI.

Di tengah persoalan tersebut, modernisasi data mulai menjadi bagian dari agenda transformasi bisnis. Perusahaan tidak selalu harus mengganti seluruh sistem lama yang masih menjalankan proses bisnis kritikal. Sebaliknya, sistem legacy dapat tetap digunakan sambil membangun lapisan data yang lebih fleksibel untuk menopang aplikasi baru, kebutuhan real-time, dan penggunaan AI.

Menyikapi hal ini, Halim Hartono Perdana, Director Business Development & Innovation PT Multipolar Technology Tbk, mengatakan banyak perusahaan masih mengandalkan sistem yang sudah ada untuk menjalankan proses bisnis yang kritikal. Di saat yang sama, kebutuhan aplikasi modern, real-time experience, dan AI terus berkembang.

"Tantangannya bukan selalu mengganti sistem lama, tetapi bagaimana menghubungkan apa yang sudah ada dengan apa yang akan datang. Di sinilah fondasi data yang fleksibel menjadi penting,” kata Halim, dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9).

Pendekatan bertahap tersebut menjadi salah satu opsi untuk mengurangi kompleksitas ketika perusahaan melakukan modernisasi. Sistem yang masih dibutuhkan tidak harus langsung dihentikan, sementara infrastruktur data dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang baru.

PT Multipolar Technology Tbk melihat kebutuhan tersebut melalui solusi MongoDB yang ditawarkannya. Pendekatan yang diusung memungkinkan perusahaan menghubungkan sistem yang sudah berjalan dengan aplikasi dan teknologi baru, termasuk berbagai kebutuhan AI.

Kebutuhan terhadap fondasi data yang lebih siap semakin besar seiring perusahaan memperluas pemanfaatan AI. Teknologi ini membutuhkan data yang relevan dan dapat diakses dengan konteks yang tepat agar hasil yang dihasilkan dapat digunakan dalam proses bisnis.

Halim menjelaskan, MongoDB menyediakan sejumlah kapabilitas yang ditujukan untuk kebutuhan tersebut, antara lain vector search, stream processing, serta pengelolaan berbagai jenis data dalam satu platform. Dalam konteks yang lebih luas, modernisasi data juga berkaitan dengan upaya perusahaan mengurangi technical debt dan meningkatkan kelincahan ketika mengembangkan aplikasi maupun layanan baru.

PwC dalam riset globalnya pada 2026 menemukan bahwa hampir 74 persen nilai ekonomi AI terkonsentrasi pada 20 persen organisasi. Perusahaan dalam kelompok tersebut tidak hanya meningkatkan penggunaan AI, tetapi juga memperkuat fondasi seperti data, tata kelola, dan kepercayaan agar teknologi dapat diterapkan dalam skala yang lebih besar.

Bagi perusahaan di Indonesia, persoalannya dengan demikian bukan semata-mata seberapa cepat AI diadopsi, tetapi seberapa siap infrastruktur bisnis menopang teknologi tersebut.

“Dengan fondasi data yang lebih siap, perusahaan dapat lebih cepat merespons perubahan pasar, memahami pelanggan, meningkatkan efisiensi operasional, mengelola risiko, dan menciptakan peluang bisnis baru. Inilah mengapa modernisasi data bukan lagi semata-mata agenda IT, melainkan bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan di era AI,” kata Halim.

Perlombaan mengadopsi AI pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling cepat menggunakan teknologi baru. Di baliknya ada pekerjaan yang lebih mendasar: memastikan data tersedia, terhubung, dan siap digunakan. Bagi perusahaan, pembenahan fondasi inilah yang akan menentukan seberapa jauh investasi AI dapat diterjemahkan menjadi nilai bisnis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article