Jakarta, FORTUNE - Perusahaan teknologi antariksa asal Amerika Serikat diprediksi mampu mengantongi pendapatan US$1 triliun pada 2030.
Hal tersebut disampaikan oleh pendiri Space X, Elon Musk, beberapa hari setelah perusahaan tersebut melakukan penawaran umum perdana (IPO), dengan valuasi lebih dari US$2 triliun. Musk bahkan menyebut, pendapatan SpaceX berpotensi melampaui angka tersebut pada tahun berikutnya.
"Saya akan terkejut jika pendapatan tidak lebih dari $1 triliun pada 2031," katanya dikutip dari The Economic Times, Senin (15/6).
IPO SpaceX pada Jumat (13/6) mencatatkan nilai US$75 miliar. Aksi korporasi ini mendorong SpaceX sebagai perusahaan yang bergerak di sektor peluncuran roket, satelit, dan kecerdasan buatan (AI) itu sebagai salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.
Meski demikian, skala bisnis SpaceX saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan sejumlah raksasa teknologi dengan valuasi serupa. Pendapatan perusahaan tercatat masih berada di bawah perusahaan seperti Broadcom dan Amazon.
Pada 2025, SpaceX mencatatkan pendapatan US$18,67 miliar, naik dari US$14,02 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$4,94 miliar dari keuntungan sebesar $791 juta pada 2024.
Berdasarkan Yahoo Finance, beberapa analis Wall Street menyampaikan sejumlah analisisnya terhadap SpaceX.
Morgan Stanley, sebagai penjamin emisi utama memperkirakan pendapatan SpaceX akan mendekati US$330 miliar pada 2030. Sementara Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan pendapatan SpaceX akan melebihi US$470 miliar pada 2030.
Kedua perkiraan itu disebut bergantung pada infrastruktur AI, bukan roket. Morgan Stanley memperkirakan AI akan menghasilkan sekitar $190 miliar dari total pendapatan tahun 2030.
Saat ini, jaringan satelit Starlink menopang bisnis di SpaceX dan menghasilkan pendapatan sebesar US$11,4 miliar tahun lalu. Jumlah pelanggan mencapai 10,3 juta pada Maret 2026, meningkat dari 8,9 juta pada tahun sebelumnya.
