Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Investasi AI Meningkat, 49% Perusahaan APAC Tertinggal dari Target Modernisasi

4 min read
Investasi AI Meningkat, 49% Perusahaan APAC Tertinggal dari Target Modernisasi
Riset Kyndryl mengungkap, agenda modernisasi perusahaan semakin kompleks seiring meluasnya penggunaan AI.
  • Sebanyak 49 persen organisasi APAC belum mencapai target modernisasi teknologi, dengan dampak berupa kenaikan biaya, keterlambatan kapabilitas, serta risiko keamanan dan kepatuhan.

  • Investasi AI berjalan bersama penguatan infrastruktur, termasuk mainframe, komputasi edge, SaaS, private cloud, dan sovereign cloud.

  • Agentic AI mulai digunakan untuk mendukung modernisasi, tetapi implementasinya masih terbatas dan bergantung pada kesiapan infrastruktur serta tata kelola.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE— Sebanyak 49 persen organisasi atau perusahaan di kawasan Asia-Pasifik (APAC) belum mencapai target modernisasi teknologi. Keterlambatan tersebut berpotensi meningkatkan biaya jangka panjang, menghambat adopsi teknologi baru, hingga memperbesar risiko keamanan dan kepatuhan.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan Modernization Report yang dirilis perusahaan layanan teknologi informasi global Kyndryl. Riset yang melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi di lima benua dan 12 industri. Riset tersebut menunjukkan, bahwa agenda modernisasi perusahaan semakin kompleks seiring meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Dari organisasi yang mengalami penundaan proyek modernisasi di APAC, sebanyak 44 persen melaporkan peningkatan biaya jangka panjang. Selain itu, 43 persen mengaku mengalami keterlambatan dalam mengadopsi kapabilitas baru, sedangkan 38% menghadapi kerentanan baru dalam aspek keamanan atau kepatuhan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keterlambatan modernisasi bukan sekadar persoalan teknis. Ketertinggalan infrastruktur teknologi juga dapat memengaruhi efisiensi operasional, kemampuan berinovasi, dan daya saing perusahaan.

Wakil Presiden sekaligus Managing Director Kyndryl untuk ASEAN dan Korea, Megawaty Khie mengatakan perusahaan di kawasan Asia-Pasifik kini tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara investasi AI atau penguatan infrastruktur teknologi.

“Organisasi membutuhkan keduanya. Seiring dengan semakin terdistribusinya lingkungan teknologi, tantangannya adalah menentukan ke mana harus berinvestasi, apa yang perlu dimodernisasi, serta bagaimana menjaga lingkungan tersebut agar tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/11).

Dalam riset tersebut, peningkatan kinerja, keamanan, dan integrasi menjadi salah satu prioritas modernisasi bagi 36 persen organisasi di APAC. Persentase yang sama juga berlaku untuk peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta penguatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola.

Sementara itu, penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih menjadi prioritas bagi 34 persen organisasi. Angka ini menunjukkan bahwa investasi AI berjalan beriringan dengan kebutuhan perusahaan untuk memperkuat fondasi teknologi dan meningkatkan efisiensi bisnis.

AI juga mulai menjadi pendorong investasi infrastruktur. Teknologi tersebut menjadi faktor utama peningkatan penggunaan mainframe dan komputasi edge, serta pendorong terbesar kedua untuk ekspansi software-as-a-service (SaaS) dan private cloud.

Di sisi lain, seluruh organisasi yang memiliki mainframe dalam riset tersebut berencana menerapkan AI pada platform itu.

  1. Kompleksitas Infrastruktur Meningkat

    Di tengah peningkatan investasi teknologi, perusahaan justru menghadapi lingkungan infrastruktur yang semakin beragam. Namun, organisasi tidak serta-merta mengonsolidasikan seluruh sistem ke satu platform, melainkan memperluas penggunaan berbagai teknologi sesuai kebutuhan operasional.

    Perubahan tersebut membuat modernisasi tidak lagi sebatas migrasi sistem lama ke teknologi baru. Perusahaan perlu mengoordinasikan berbagai platform, aplikasi, dan infrastruktur agar dapat beroperasi secara terintegrasi.

    Modernisasi juga semakin melibatkan berbagai fungsi bisnis. Riset Kyndryl mencatat sembilan kelompok pemangku kepentingan yang memiliki kendali dalam pengambilan keputusan, mulai dari CIO dan CTO hingga dewan direksi, tim keuangan, dan kepatuhan.

    Dengan demikian, keputusan investasi teknologi tidak lagi menjadi tanggung jawab eksklusif departemen teknologi informasi, tetapi telah berkembang menjadi agenda strategis perusahaan.

    Selain kebutuhan efisiensi dan kinerja, pertimbangan kedaulatan digital turut memengaruhi keputusan investasi. Sebanyak 37 persen organisasi APAC mempertimbangkan aspek kedaulatan teknologi secara selektif ketika menghadapi tuntutan eksternal, sedangkan 26 persen menjadikannya terutama sebagai pertimbangan kepatuhan.

    Riset mencatat, hanya 7 persen organisasi yang menempatkan prinsip kedaulatan sebagai fondasi transformasi sejak awal. Meski demikian, 65 persen responden memperkirakan peningkatan penggunaan sovereign cloud atau zona infrastruktur khusus dalam satu tahun mendatang.

  2. Agentic AI Mulai Dilirik

    Untuk mengatasi kompleksitas modernisasi, perusahaan juga mulai mengeksplorasi penggunaan agentic AI, yakni teknologi AI yang mampu merencanakan dan menjalankan tugas secara mandiri.

    Namun, tingkat implementasinya masih relatif terbatas. Baru 10 persen organisasi di APAC yang telah menggunakan agentic AI dalam tahap produksi untuk mendukung modernisasi sistem.

    Teknologi tersebut antara lain dimanfaatkan untuk pemetaan ketergantungan antarsistem, konversi kode, dan penyusunan dokumentasi yang selama ini membutuhkan waktu serta keahlian khusus.

    Temuan ini menunjukkan bahwa peluang peningkatan produktivitas melalui AI masih terbuka. Namun, realisasinya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tata kelola, dan kemampuan perusahaan mengintegrasikan teknologi baru dengan sistem yang telah berjalan.

Related Articles

See More