“Ini adalah tanggung jawab bersama yang tidak dapat ditangani oleh satu institusi saja. Pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat harus bekerja sama untuk memperkuat ketahanan siber Indonesia serta memastikan kemajuan digital kita berlangsung secara aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
CYBR Soroti Ketahanan Siber di Tengah Peluang Ekonomi di Era AI
Adopsi AI membuka peluang efisiensi dan pertumbuhan bisnis, sekaligus meningkatkan kompleksitas risiko keamanan digital.
Forum AICX 2026 membahas investasi siber, talenta teknologi, dan kesiapan perusahaan menghadapi perubahan teknologi.
Pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil didorong memperkuat kolaborasi serta ekosistem digital Indonesia.
Jakarta, FORTUNE — Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuka peluang efisiensi dan pertumbuhan bisnis, di samping memunculkan kompleksitas risiko keamanan digital. Kebutuhan perusahaan untuk memperkuat sistem pertahanan siber dan menyiapkan talenta teknologi menjadi salah satu isu yang dibahas dalam forum AICX 2026 yang digelar PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital di Bali.
Forum bertema AI, Cyber & Quantum: Indonesia's Next Chapter tersebut merupakan bagian dari Bali Tech Week 2026 dan dihadiri lebih dari 600 peserta serta 25 pembicara dari kalangan pemerintah, regulator, industri, dan akademisi.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher mengatakan, keputusan terkait teknologi kini berpengaruh terhadap daya saing perusahaan, ketahanan operasional, hingga kesiapan menghadapi perubahan teknologi. Oleh karenanya, adopsi AI dan keamanan siber perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi bisnis dan investasi, bukan semata-mata persoalan teknis.
“AI mengubah cara bisnis beroperasi, sementara ancaman siber dan perkembangan teknologi baru turut mengubah risiko yang harus mereka hadapi,” ujar Patrick dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10).
Menurut dia, perusahaan perlu menetapkan prioritas investasi dan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi perubahandi era AI. Ketika sistem digital semakin terintegrasi dengan proses bisnis, gangguan keamanan berpotensi mempengaruhi kelangsungan operasional organisasi.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah, menekankan pentingnya menjaga kedaulatan digital Indonesia dan keamanan siber dalam mendukung inovasi dan adopsi AI. Penguatan infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia dinilai menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang lebih tangguh.
“Indonesia perlu memperkuat kapasitas talenta digital serta membangun kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat sipil. Melalui AICX 2026, kita dapat menyelaraskan prioritas, mengubah dialog menjadi kemitraan nyata serta mengembangkan solusi terpercaya yang menjawab kebutuhan Indonesia sekaligus berkontribusi bagi kawasan,” ujar Edwin.
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Slamet Aji Pamungkas menekankan bahwa keamanan siber perlu menjadi bagian dari setiap tahap pengembangan dan adopsi teknologi. Penguatan ketahanan siber, menurut dia, membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
Selain keamanan siber, AICX 2026 juga menyoroti penerapan AI di perusahaan, tata kelola inovasi keuangan digital, serta kesiapan sistem keamanan menghadapi perkembangan komputasi kuantum.
Pembahasan tersebut mencerminkan tantangan organisasi dalam mengadopsi teknologi baru tanpa mengabaikan perlindungan informasi, pengelolaan risiko, dan keberlangsungan operasional. Perusahaan juga perlu menyiapkan tata kelola yang memungkinkan pemanfaatan AI berjalan seiring dengan pengendalian risiko.
Ketersediaan tenaga profesional di bidang AI dan keamanan siber turut menjadi perhatian. Pertumbuhan kebutuhan kompetensi tersebut menempatkan pengembangan talenta sebagai salah satu faktor penting bagi keberlanjutan ekonomi digital Indonesia.



















