Colliers: AI Ubah Strategi Kantor, Produktivitas Jadi Prioritas

- Survei Colliers terhadap 313 perusahaan menunjukkan AI diperkirakan terutama mengubah produktivitas, keterampilan, peran, dan struktur tenaga kerja, bukan langsung mengurangi kebutuhan ruang kantor.
- Perusahaan tetap mengutamakan kantor untuk produktivitas, kinerja bisnis, kolaborasi, dan inovasi; 47% memprediksi kebutuhan format ruang berbeda, sementara 36% memperkirakan ruang menyusut.
- Tekanan biaya okupansi memengaruhi strategi properti, tetapi hanya 13% berencana mengurangi kantor; keselarasan perencanaan tenaga kerja akibat AI dengan kontrak sewa masih rendah.
Jakarta, FORTUNE - Adopsi kecerdasan buatan (AI) mendorong perusahaan di Asia Pasifik mengubah strategi pengelolaan kantor. Alih-alih mengurangi ruang kerja, perusahaan mulai berfokus pada produktivitas, kolaborasi, dan kinerja bisnis sebagai tolok ukur nilai investasi properti.
Laporan Asia Pacific Workplace Insights yang dirilis Colliers pada 12 Oktober 2026 menunjukkan, AI diperkirakan lebih dahulu mengubah struktur tenaga kerja dan cara kerja dibandingkan mengurangi kebutuhan ruang kantor. Laporan ini berdasarkan survei terhadap 313 perusahaan pengguna ruang kantor di 11 pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Seluruh responden memperkirakan AI akan menciptakan posisi spesialis baru yang membutuhkan keterampilan dan pola kolaborasi berbeda. Sebanyak 100 persen responden memperkirakan dampak terbesar AI terhadap produktivitas dan hasil kerja, disusul keterampilan serta peran pekerjaan sebesar 73 persen dan struktur tenaga kerja sebesar 61 persen.
Managing Director Occupier Services Asia Pasifik Colliers, Mike Davis, mengatakan perubahan tersebut akan memengaruhi fungsi kantor.
“Temuan ini menunjukkan bahwa dampak pertama dan paling langsung dari AI akan terasa pada tenaga kerja, keterampilan, dan cara pekerjaan dilakukan, bukan sekadar mengurangi kebutuhan ruang kantor. Seiring perusahaan mengadopsi AI, ruang kerja perlu berkembang untuk mendukung lebih banyak kolaborasi, pembelajaran, inovasi, dan berbagi pengetahuan. Peluang bagi perusahaan adalah memastikan strategi tempat kerja beradaptasi seiring transformasi tenaga kerja,” ujar Davis.
Temuan itu juga menunjukkan bahwa AI tidak selalu berujung pada pengurangan ruang kantor. Sebanyak 47 persen responden memperkirakan AI akan mendorong kebutuhan format dan jenis ruang kerja yang berbeda, sedangkan 36 persenmemperkirakan kebutuhan ruang akan menyusut.
Sebanyak 82 persen perusahaan masih menerapkan model kerja yang berpusat pada kantor dan 80 persen tidak memperkirakan perubahan berarti pada kebijakan tempat kerja dalam 12 bulan mendatang. Sebanyak 55 persen responden menyebut produktivitas dan kinerja bisnis sebagai fungsi utama kantor, diikuti kolaborasi dan inovasi sebesar 52 persen.
Namun, pengukuran efektivitas ruang kerja masih menjadi tantangan. Sebanyak 25 persen perusahaan belum mengukurnya secara formal, sedangkan 10 persen terutama mengandalkan masukan pimpinan.
“Pembahasan mengenai tempat kerja telah berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bagi sebagian besar organisasi, pertanyaannya bukan lagi apakah karyawan harus berada di kantor, melainkan bagaimana tempat kerja berkontribusi terhadap produktivitas, kolaborasi, inovasi, dan kinerja bisnis,” kata Davis.
“Survei kami menunjukkan bahwa perusahaan semakin berfokus pada hasil. Organisasi yang mampu menciptakan nilai terbesar adalah mereka yang menyelaraskan strategi tempat kerja, teknologi, dan talenta dengan sasaran bisnis yang terukur," ujarny, dlaam keterangan resmi, Jumat (16/10).
Tekanan biaya juga memengaruhi keputusan properti perusahaan. Sebanyak 75 persen responden menyebut biaya okupansi sebagai faktor utama. Meski demikian, 40 persen berencana memperpanjang kontrak sewa, 29 persen mempertahankan luas kantor, dan 17 persen menata ulang ruang kerja. Hanya 13 persen yang berencana mengurangi luas kantor melalui konsolidasi dalam 12 bulan ke depan.
Managing Director Office Services Asia Tenggara Colliers, Chris Archibold, menilai strategi properti perlu berorientasi pada kinerja karyawan.
Perubahan utama pada siklus berikutnya adalah perusahaan pengguna properti terkemuka menyadari bahwa real estat bukanlah tujuan akhir; kinerja talenta adalah hal yang utama. Ketika karyawan mewakili sekitar 65 persen dari biaya bisnis Anda dan tempat kerja fisik hanya mewakili 15 persen, mandat sesungguhnya dari kantor adalah menjadi pengganda bernilai tinggi bagi investasi sumber daya manusia yang jauh lebih besar tersebut.
Laporan itu juga menemukan kesenjangan dalam perencanaan tenaga kerja dan properti. Sebanyak 62 persen perusahaan memperkirakan pola kerja lintas fungsi dan berbasis proyek akan meningkat. Namun, 57 persen belum menyelaraskan perubahan tenaga kerja akibat AI dengan masa berakhirnya kontrak sewa dan kebutuhan kantor mendatang. Hanya 7 persen yang telah menyelaraskan kedua perencanaan tersebut secara penuh.
Asia Pasifik tetap menjadi kawasan ekspansi bagi perusahaan. Efisiensi biaya operasional menjadi pertimbangan lokasi utama bagi 68 persen responden, disusul akses terhadap talenta sebesar 50 persen. Faktor politik hanya disebut oleh 7persen responden. Sebanyak 40 persen perusahaan tidak mengubah rencana ekspansi, sementara 34 persen masih aktif memperluas bisnis di kawasan tersebut.
“Talenta tetap menjadi faktor penentu dalam keputusan terkait tempat kerja dan lokasi di seluruh Asia Pasifik. Survei menunjukkan bahwa organisasi terus memprioritaskan akses terhadap keterampilan, produktivitas, dan kinerja bisnis. Meskipun faktor geopolitik tetap menjadi bagian dari lingkungan operasional, fundamental pertumbuhan jangka panjang kawasan ini terus mendorong pengambilan keputusan perusahaan,” ujar Davis.
Survei dilakukan pada Agustus 2026 melalui kuesioner digital dan interaksi langsung dengan klien di 11 pasar Asia Pasifik, yakni Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan.



















