Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Nezar: AI Jadi Tantangan Baru bagi Sensor Film

2 min read
Nezar: AI Jadi Tantangan Baru bagi Sensor Film
Elemen ilustrasi film. Source: iStock
  • AI mampu menghasilkan adegan, suara, dan karakteristik seseorang yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

  • Masifnya konten AI menambah tantangan bagi LSF yang menilai 40 ribu film setiap tahun dengan 110 anggota.

  • AI dapat membantu mengenali adegan, tetapi penilaian tetap membutuhkan manusia untuk memahami konteks dan pesan karya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan bahwa kecerdasan artificial (AI) mampu menghasilkan adegan film yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi penyensoran film, mulai dari masifnya produksi konten hingga risiko adegan kekerasan dan pornografi yang dihasilkan AI.

Terlebih lagi, teknologi tersebut memungkinkan seseorang tanpa keahlian di bidang sinema mampu memproduksi video dan film sendiri.

"Inovasi teknologi mengubah cara-cara produksi dalam dunia perfilman . Perubahan alat produksi ini membuat produksi film bisa diakses oleh siapa saja dan pembuatan film menjadi lebih demokratis. Namun, film dengan kualutas sinematik tetap membutuhkan keterampilan dan rasa estetika yang tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (26/10).

Masifnya konten yang diciptakan menggunakan AI menjadi tantangan bagi Lembaga Sensor Film (LSF) yang memiliki tanggung jawab dalam menilai film dalam jumlah besar. Pasalnya, konten yang diciptakan dengan AI seperti film pendek dan drama saat ini menyebar dengan cepat.

Konten tersebut juga dapat menyuguhkan adegan kekerasan, pornografi, hingga materi yang menantang norma.

Sedangkan, terdapat 110 anggota LSF yang menangani penyensoran 40 ribu film setiap tahun.

Teknologi AI juga tidak hanya membantu pembuatan gambar, tetapi juga menghasilkan suara dan meniru karakteristik seseorang. Hal ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan persoalan ketika konten AI disajikan seolah-olah merupakan rekaman atau peristiwa nyata.

Meski demikian, Nezar mencermati bahwa AI juga dapat diandalkan dapat membantu mengenali adegan dan mengidentifikasi unsur tertentu dalam film, meski keputusan akhir tetap membutuhkan kendali manusia.

"AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia," ujarnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More