Jakarta, FORTUNE – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia mendorong perlunya pendekatan keselamatan yang lebih proaktif dan berbasis teknologi. Menjawab tantangan tersebut, TransTRACK menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI), telematika, dan analitik data dalam mendukung implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum.
Penguatan sistem keselamatan transportasi menjadi semakin penting mengingat tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang masih terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 terjadi 156.253 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia yang mengakibatkan 235.789 korban, termasuk 21.717 korban meninggal dunia. Artinya, rata-rata hampir 60 orang kehilangan nyawa setiap hari akibat kecelakaan di jalan raya.
Chief Operating Officer (COO) TransTRACK, Ledi Hari Setiawan, mengatakan bahwa tantangan keselamatan transportasi saat ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan konvensional. Menurutnya, tingginya risiko kecelakaan akibat faktor manusia membutuhkan dukungan teknologi yang mampu mendeteksi potensi bahaya sebelum insiden terjadi.
“Penerapan sistem manajemen keselamatan perusahaan angkutan umum tidak hanya membutuhkan regulasi dan komitmen manajemen, tetapi juga dukungan teknologi yang mampu memberikan visibilitas terhadap risiko di lapangan secara real-time,” kata Ledi melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (12/6).
Sebagai perusahaan teknologi transportasi dan logistik berbasis Internet of Things (IoT), AI, dan Big Data, TransTRACK terus mengembangkan berbagai solusi yang membantu perusahaan meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, produktivitas armada, dan keberlanjutan bisnis.
Hingga saat ini, solusi TransTRACK telah digunakan oleh lebih dari 200.000+ unit kendaraan dari berbagai perusahaan transportasi, logistik, pertambangan, perkebunan, manufaktur, dan sektor strategis lainnya di Indonesia dan telah menjangkau Malaysia, Singapura, Australia, hingga negara Timur Tengah melalui Saudi Arabia dan Qatar.
Dalam forum diskusi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan bersama Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda) di Medan beberapa waktu lalu, TransTRACK juga memperkenalkan pendekatan solusi Safety Intelligence yang mengintegrasikan Driver Monitoring System (DMS) dan Advanced Driver Assistance System (ADAS) berbasis AI untuk membantu operator mengidentifikasi perilaku berkendara berisiko, mengurangi potensi kecelakaan.
Menurut Ledi, pemanfaatan teknologi keselamatan berbasis AI menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan industri transportasi terhadap sistem pengawasan yang proaktif dan berbasis data. Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat implementasi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 85 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum.
