Jakarta, FORTUNE — Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang dagang, volatilitas pasar, hingga ancaman tarif berisiko meningkatkan serangan siber global dan menjadi kian agresif di tengah banyaknya perusahaan melakukan efisiensi anggaran teknologi.
Berdasarkan studi Gartner, secara global, belanja keamanan informasi diproyeksikan mencapai US$213 miliar pada 2025. Meski pertumbuhan anggarannya melambat menjadi sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya 8 persen akibat tekanan inflasi, kebutuhan terhadap layanan keamanan siber tetap meningkat seiring kompleksitas ancaman digital yang terus berkembang.
Pada saat yang sama, tren onshoring keamanan siber juga semakin menguat. Kekhawatiran terhadap rantai pasok lintas negara serta isu kedaulatan data mendorong organisasi untuk lebih memilih penyedia layanan lokal yang memahami regulasi dan kebutuhan domestik.
Hal ini yang kemudian ditangkap PT ITSEC Asia Tbk (CYBR). Emiten keamanan siber ini menilai keamanan siber kini tidak lagi dianggap sebagai biaya operasional, tapi juga bertransformasi menjadi infrastruktur strategis yang menopang keberlangsungan bisnis dan ketahanan ekonomi digital.
Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia mengatakan tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang.
“Indonesia, dengan lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir, berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan reaktif. Kami membangun ITSEC Asia untuk momen seperti ini bukan sebagai respons terhadap krisis, melainkan sebagai infrastruktur yang sudah siap saat krisis tiba,” katanya dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6).
Oleh sebab itu, CYBR sebagai pemain lokal yang telah membangun rekam jejak di sektor pemerintah, keuangan, dan infrastruktur kritis nasional.
Urgensi keamanan siber di Indonesia semakin terlihat dari tingginya aktivitas ancaman digital yang terjadi sepanjang 2025.
Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan, terdapat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik selama Januari hingga November 2025. Jumlah tersebut setara dengan hampir 182 percobaan serangan setiap detik.
Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi sasaran utama serangan yang terjadi secara lintas industri.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengatakan ancaman siber kini telah berkembang menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor ekonomi.
“Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor. Tingginya aktivitas serangan di Indonesia menjadi pengingat bahwa keamanan siber perlu menjadi perhatian di tingkat pimpinan organisasi,” ujarnya.
Menurut BSSN, sebanyak 93,78 persen anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware. Sementara itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan siber juga meningkatkan efektivitas serangan phishing dan rekayasa sosial dalam skala yang lebih besar.
Tim Threat Intelligence ITSEC Asia mencatat bahwa ancaman yang berkembang paling cepat saat ini berasal dari kelompok stealer malware yang mampu mencuri kata sandi, cookies, session token, kredensial cloud, hingga akses ke aplikasi bisnis.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko account takeover, business email compromise (BEC), penyalahgunaan layanan cloud, hingga serangan ransomware yang lebih kompleks.
