Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Lonjakan Serangan Siber Perkuat Prospek Bisnis CYBR
PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) memperkuat ekspansi bisnis keamanan siber dengan meluncurkan solusi baru IntelliBron Aman Enterprise.
  • Lonjakan serangan siber global dan nasional mendorong peningkatan kebutuhan layanan keamanan digital, meski pertumbuhan anggaran teknologi melambat akibat tekanan ekonomi dan inflasi.
  • CYBR memanfaatkan tren onshoring serta regulasi seperti UU PDP dan RUU KKS untuk memperkuat posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun arsitektur keamanan digital nasional.
  • Melalui inovasi berbasis AI, pusat operasi keamanan, dan akademi pelatihan siber, CYBR berupaya mencetak talenta lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem digital Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang dagang, volatilitas pasar, hingga ancaman tarif berisiko meningkatkan serangan siber global dan menjadi kian agresif di tengah banyaknya perusahaan melakukan efisiensi anggaran teknologi.

Berdasarkan studi Gartner, secara global, belanja keamanan informasi diproyeksikan mencapai US$213 miliar pada 2025. Meski pertumbuhan anggarannya melambat menjadi sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya 8 persen akibat tekanan inflasi, kebutuhan terhadap layanan keamanan siber tetap meningkat seiring kompleksitas ancaman digital yang terus berkembang.

Pada saat yang sama, tren onshoring keamanan siber juga semakin menguat. Kekhawatiran terhadap rantai pasok lintas negara serta isu kedaulatan data mendorong organisasi untuk lebih memilih penyedia layanan lokal yang memahami regulasi dan kebutuhan domestik.

Hal ini yang kemudian ditangkap PT ITSEC Asia Tbk (CYBR). Emiten keamanan siber ini menilai keamanan siber kini tidak lagi dianggap sebagai biaya operasional, tapi juga bertransformasi menjadi infrastruktur strategis yang menopang keberlangsungan bisnis dan ketahanan ekonomi digital.

Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia mengatakan tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang.

“Indonesia, dengan lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir, berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan reaktif. Kami membangun ITSEC Asia untuk momen seperti ini bukan sebagai respons terhadap krisis, melainkan sebagai infrastruktur yang sudah siap saat krisis tiba,” katanya dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6).

Oleh sebab itu, CYBR sebagai pemain lokal yang telah membangun rekam jejak di sektor pemerintah, keuangan, dan infrastruktur kritis nasional.

Urgensi keamanan siber di Indonesia semakin terlihat dari tingginya aktivitas ancaman digital yang terjadi sepanjang 2025.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan, terdapat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik selama Januari hingga November 2025. Jumlah tersebut setara dengan hampir 182 percobaan serangan setiap detik.

Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi sasaran utama serangan yang terjadi secara lintas industri.

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengatakan ancaman siber kini telah berkembang menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor ekonomi.

“Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor. Tingginya aktivitas serangan di Indonesia menjadi pengingat bahwa keamanan siber perlu menjadi perhatian di tingkat pimpinan organisasi,” ujarnya.

Menurut BSSN, sebanyak 93,78 persen anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware. Sementara itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan siber juga meningkatkan efektivitas serangan phishing dan rekayasa sosial dalam skala yang lebih besar.

Tim Threat Intelligence ITSEC Asia mencatat bahwa ancaman yang berkembang paling cepat saat ini berasal dari kelompok stealer malware yang mampu mencuri kata sandi, cookies, session token, kredensial cloud, hingga akses ke aplikasi bisnis.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko account takeover, business email compromise (BEC), penyalahgunaan layanan cloud, hingga serangan ransomware yang lebih kompleks.

Regulasi Jadi Pendorong Permintaan

Selain meningkatnya ancaman, faktor regulasi juga diperkirakan menjadi katalis pertumbuhan industri keamanan siber nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) yang masuk dalam Prolegnas Prioritas 2026, serta penyusunan peta jalan AI nasional dipandang akan meningkatkan kebutuhan organisasi terhadap layanan keamanan siber profesional.

Bagi CYBR, perkembangan regulasi tersebut menjadi validasi atas model bisnis yang telah dijalankan perusahaan selama lebih dari satu dekade.

Oleh karenanya, perseroan aktif terlibat dalam berbagai inisiatif bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), BSSN, Bank Indonesia, dan sejumlah lembaga negara lain untuk memperkuat arsitektur keamanan digital nasional.

“Keterlibatan aktif ITSEC Asia bersama Komdigi, BSSN, Bank Indonesia dan lembaga-lembaga negara lainnya menempatkan perusahaan tidak hanya sebagai penyedia solusi, tetapi sebagai mitra strategis dalam pembentukan arsitektur keamanan digital nasional. Posisi ini sulit direplikasi oleh pemain asing yang tidak memiliki kedalaman pemahaman terhadap konteks regulasi, budaya, dan kebutuhan spesifik pasar Indonesia,” ujarnya.

Untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang, CYBR mengembangkan berbagai solusi keamanan berbasis intelijen ancaman, termasuk IntelliBroń Orion dan Aman.

Perseroan juga memperkenalkan ITSEC AI Operations Center yang ditujukan untuk menangkap peluang pengadaan solusi berbasis AI di sektor pemerintahan dan BUMN seiring percepatan transformasi digital nasional.

Di sisi pengembangan sumber daya manusia, perusahaan meluncurkan ITSEC Cyber and AI Academy sebagai upaya mencetak talenta keamanan siber nasional sekaligus memperkuat hubungan dengan ekosistem pendidikan dan industri.

Menurut Patrick, percepatan transformasi digital yang berlangsung di Indonesia membutuhkan fondasi keamanan yang sama kuatnya agar pertumbuhan ekonomi digital dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“ITSEC Asia hadir untuk memastikan bahwa pertumbuhan digital Indonesia tidak rapuh di bawahnya dan bahwa kepercayaan investor terhadap ekosistem digital nasional memiliki landasan yang solid,” katanya.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article