Comscore Tracker
TECH

Kembangkan Rupiah Digital, BI Gelar Kompetisi Berhadiah Rp770 Juta

Pengembangan CBDC berbasis kepentingan publik.

Kembangkan Rupiah Digital, BI Gelar Kompetisi Berhadiah Rp770 JutaIlustrasi Bank Indonesia/ Shutterstock Harismoyo

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) meneruskan pengembangan mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC). Dalam agenda Presidensi G20, BI bekerja sama dengan Bank for International Settlements (BIS) Innovation Hub menggelar G20 Techsprint Initiative 2022, ajang kompetisi internasional untuk menggali inovasi berbasis teknologi.

Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, tujuan akhir dari CBDC dapat diraih lewat pemahaman bersama mengenai teknologi dan kolaborasi inklusif di antara negara maju dan berkembang. 

“Melalui G20 TechSprint 2022, kami bermaksud mendorong dan mengajak komunitas tingkat internasional untuk menyampaikan solusi yang paling praktis dalam merancang dan mengimplementasikan CBDC,” kata Perry dalam keterangan kepada media, dikutip Selasa (26/4).

CBDC adalah catatan elektronik atau token digital dari mata uang resmi yang dikeluarkan oleh otoritas moneter (bank sentral) suatu negara, demikian Investopedia. BI saat ini masih mengembangkan CBDC (atau rupiah digital). Bank sentral belum memutuskan penerbitan rupiah digital dalam waktu dekat, namun persiapan ke arah sana sudah dilakukan.

Barang publik

Konsep Mata Uang Digital Bank Sentral CBDC. Shutterstock/Panchenko Vladimir

General Manager BIS, Agustin Carstens, mengatakan suatu keniscayaan CBDC memiliki banyak potensi untuk mendukung kepentingan publik di era uang digital ini.

“Kepercayaan masyarakat pada uang merupakan perekat sistem keuangan. Karena itu, seiring kemajuan teknologi, bank sentral harus memastikan bahwa sistem moneter secara fundamental tetap berlaku sebagai barang publik, termasuk harus menjaga stabilitasnya," ujarnya.

Bank Indonesia dan BIS Innovation Hub menemukan tiga tantangan pokok dalam pengembangan CBDC. Pertama, membangun sarana yang efektif dan kuat dalam menerbitkan, mendistribusikan. dan mentransfer CBDC. Kedua, mata uang digital bank sentral memungkinkan untuk memperdalam inklusi keuangan.

Ketiga, meningkatkan interoperabilitas. CBDC dapat membantu meningkatkan dan mengaktifkan koneksi serta keterkaitan dalam sistem pembayaran, meningkatkan konektivitas dan interoperabilitas.

Kompetisi

ilustrasi : ekonomi digital

Pun begitu, Techsprint atau “Hackathon" (hack marathon) tahun ini mengundang inovator di seluruh dunia untuk mengembangkan solusi baru dalam menerbitkan dan mengedarkan CBDC, serta menggunakannya untuk keperluan keuangan inklusif, melanjutkan keberhasilan inisiatif dalam pengaturan, dan pengawasan kepatuhan serta solusi pembiayaan hijau pada tahun sebelumnya.

Kompetisi ini terbuka untuk umum. Individu atau komunitas dapat berpartisipasi dengan mengunjungi laman G20 Tech Sprinet, untuk mengakses menu antara lain pendaftaran, pembuatan prototipe, dan penjurian proposal secara daring.

Penyampaian proposal kompetisi dilakukan selambatnya pada 22 Mei 2022.

Pemenang untuk setiap kategori akan mendapatkan hadiah US$53 ribu atau sekitar Rp770 juta. Sedangkan, semua proyek terpilih menerima tunjangan US$10 ribu atau Rp145 juta.

Tren CBDC

Riset terbaru dari PricewaterhouseCoopers (PwC) menunjukkan lebih dari 80 persen bank sentral tengah mempertimbangkan perilisan CBDC.

Dalam kajian bertajuk PwC Global CBDC Index and Stablecoin Overview 2022, PwC menganalisis proyek CBDC sejumlah bank sentral, baik segmen ritel (mata uang digital untuk penggunaan umum) maupun grosir (yang digunakan oleh lembaga keuangan yang memiliki rekening di bank sentral). PwC lantas membuat Indeks Global PwC 2022 yang menunjukkan tingkat kesiapan proyek CBDC tersebut.

e-Naira, mata uang digital dari bank sentral Nigeria, yang perdana rilis akhir tahun lalu, menjadi pemimpin dalam lis proyek CBDC ritel dengan skor indeks 95. Lalu, di bawahnya, ada Dollar Sand yang dikeluarkan oleh bank sentral Bahama dengan skor 93. Bahama merupakan negara pertama yang meluncurkan CBDC pada 2020.

Tiongkok, yang beroleh skor 87, menjadi negara ekonomi besar pertama yang menguji coba CBDC dengan merilis yuan digital pada 2020. Negara tersebut bahkan sudah menguji coba yuan digital tersebut di 12 kota, termasuk Beijing dan Shanghai, Maret tahun ini.

Masalah inklusi keuangan, fasilitasi pembayaran lintas batas, dan pengendalian terhadap kejahatan keuangan adalah sejumlah faktor yang ikut berperan dalam pengembangan CBDC, kata Haydn Jones, Blockchain & Crypto Spesialist PwC Inggris, Rabu (6/4).

Related Articles